ilmu pengetahuan & teknologi

Pada zamannya, antara abad 9 sampai dengan abad ke 13 masehi, umat islam telah mengalami masa kejayaan. Masa dimana ilm u pengetahuan dan teknologi dikuasai oleh orang-orang muslim. Orang islam telah lebih dahulu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dibandingkan bangsa barat. Hal ini mengakibatkan kecemburuan bangsa barat akan tingginya ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh umat islam.

Oleh karena itu, bangsa barat berusaha sekuat tenaga agar sedapat mungkin menguasai ilmu pengetahuan agar tidak tertinggal dengan orang islam. Ada sebuah petuah bahwa “kalau ingin menguasai dunia, maka kuasailah ilmu pengetahuan dan teknologi”. Berbagai cara dilakukan oleh bangsa barat agar memperoleh ilmu pengetahuan dari orang-orantg islam. Salah satunya adalah dengan menterjemahkan ilmu pengetahuan kedalam bahasa mereka.

Hingga suatu waktu karena rasa kecemburuan bangsa barat terhadap orang islam yang telah maju dengan ilmu pengetahuannya, mereka (bangsa barat) menghancurkan perpustakaan orang islam. Berbagai ilmu pengetahuan musnah oleh penghancuran itu. Bangsa barat yang telah mengambil ilmu pengetahuan dari umat islam kini beralih menguasai dunia.

Keadaan umat islam semakin terpuruk setelah adanya revolusi industri. Masyarakat islam mulai tergantung pada barang produk jadi bangsa barat. Hal ini mengakibatkan ketergantungan secara ekonomi pada bangsa barat. Orang islam yang tergantung secara ekonomi pada bangsa eropa lambat laun menjadi ketergantungan dalam pemerintahan. Bangsa eropa kemudian memanfaatkan ketergantungan ini dengan menjalankan kolonialisme yang mengakibatkan keterpurukan ekonomi. Keterpurukan ekonomi ini akibat dari stabilitas politik yang menurun akibat kolonialisme bangsa barat.

Kegigihan bangsa jepang

Negara jepang pada mulanya menganggap bahwa bangsa mereka telah maju. Kekayaan dan kesuburan alamnya menjadi tumpuan utama kemakmuran rakyatnya. Seperti kita ketahui bahwa negara jepang yang feodal pada mulanya adalah negara tertutup. Namun setelah mengetahui bangsa eropa telah maju, mereka merasa masih tertinggal dibanding Negara-negara eropa itu.

Kaisar jepang pada tahun 1800-an akhirnya mengirimkan pemuda-pemudanya untuk belajar IPTEK pada bangsa eropa dan amerika karena menyadari betapa pentingnya IPTEK. Sekembalinya dari eropa, para pemuda tersebut dengan gigih membangun bangsanya agar sejajar dengan bangsa eropa. Sikap bangsa jepang yang disiplin tinggi dan jujur serta dengan semangat nasionalisme yang tinggi, selang 50 tahun kemudian berhasil membawa jepang kearah kemajuan.

Berbagai industri berkembang pesat di jepang. Mulai dari perkapalan, permesinan, elektronika, semuanya berkembang pesat dan semakin maju. Walapun jepang akhirnya terpuruk pada saat perang dunia dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, namun keterpurukan tersebut tak selang lama bangkit kembali karena kegigihan masyarakatnya yang ulet.

Meskipun bukan penganut agama islam, bangsa jepang adalah salah satu bangsa yang telah menerapkan prinsip hidup secara islami. Mereka belajar dan bekerja secara islami. Bangsa jepang merupakan bangsa yang menerapkan disiplin tinggi pada setiap kehidupan masyarakatnya. Disiplin yang tinggi dan tekun adalah prinsip kehidupan islami.

Indonesia harus bangkit

Bangsa eropa, amerika dan jepang menjadi bangsa yang maju karena mereka menyadari arti pentingnya IPTEK. Kita sebagai bangsa yang mempunyai keinginan untuk maju, juga harus menyadari betapa pentingnya ilmu pengetahuan untuk memperoleh kemajuan tersebut. Mulai sekarang kita harus bangun dari terlelapnya mimpi yang berkepanjangan ini. Bangkit dan bergerak maju demi kehidupan bangsa yang kita harapkan sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju terlebih dahulu.

Indonesia adalah negara yang besar. Besar penduduknya, luas wilayahnya, dan kaya akan hasil alamnya. Kita harus malu pada bangsa eropa yang kecil dengan kekayaan alam yang amat sedikit tapi mereka bisa maju. Luasnya wilayah Indonesia serta kekayaannya yang lebih melimpah dari jepang yang kecil akan tetapi jepang berhasil mengusai teknologi hingga bisa sejajar dengan bangsa eropa.

Seandainya ilmu pengetahuan Indonesia lebih maju, takkan berani malaysia dan singapura mencaplok wilayah kita. Takkan berani nelayan-nelayan asing mengeruk kekayaan laut kita. Dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, takkan guna Freeport di Indonesia. Karena minimnya IPTEK, kekayaan kita dikelola asing dan mengeruknya untuk memperkaya negara mereka. Karena minimnya IPTEK kedaulatan negara ini di obok-obok oleh campur tangan asing.

Apakah kita akan membiarkan Papua kita terlepas setelah timor kita lepas begitu saja? Seperti yang kita ketahui bahwa Papua adalah salah satu pulau terkaya. Tambang emasnya nomor satu di dunia. Karena kurangnya penguasaan IPTEK, dengan relanya kita menyerahkan tambang itu kepada amerika. Pekerja kita hanya pekerja kasar disana karena memang amerika yang menguasai IPTEK. Kita hanya dapat segelintir saja dari kekayaan tambang Papua. Pun rakyat Papua berontak karena kekayaan bumi mereka tidak dapat mereka nikmati sendiri. Amerika terus saja menjadi provokator agar Papua kita lepas. Apakah ini bukan mengobok-obok kedaulatan bangsa, bung?

Marilah bersama-sama kita bangun bangsa ini. Kuasai IPTEK demi kemajuan bangsa ini. Kita harus yakin suatu saat kita bisa menjadi bangsa yang besar dan maju bahkan menjadi bangsa superpower.

Semoga saja anggaran pendidikan 20% yang dijanjikan pemerintah baru-baru ini bisa terealisasi. Kita bangun bangsa ini dengan kegigihan, ketekunan, kerja keras dan kejujuran. Kuasai ilmu pengetahuan agar kita mulia.

Bangkitlah Indonesia! Bangunlah dari tidur panjangmu!

Semarang, 02:43 WIB, 24 Agustus 2008

Referensi:

  • Wisnu Arya Wardhana: “Al Qur’an dan Energi Nuklir,” Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta, 2004

aspirasi rakyat

Sejak menjabat gubernur, Amr bin Ash tidak lagi pergi ke medan tempur. Dia lebih sering tinggal di istana. Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua.
“Alangkah indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah mesjid,” gumam sang gubernur.
Singkat kata, Yahudi tua itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi. Amr bin Ash sangat kesal karena si kakek itu menolak untuk menjual tanah dan gubuknya meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran.
“Baiklah bila itu keputusanmu. Saya harap Anda tidak menyesal!” ancam sang gubernur.
Sepeninggal Yahudi tua itu, Amr bin Ash memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran.Sementara si kakek tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dalam keputusannya terbetiklah niat untuk mengadukan kesewenang- wenangan gubernur Mesir itu pada Khalifah Umar bin Khattab.
“Ada perlu apa kakek, jauh-jauh dari Mesir datang ke sini?” tanya Umar bin Khattab. Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang khalifah yang tinggi besar dan full wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya. Padahal penampilan khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas. Dia ceritakan pula bagaimana perjuangannya untuk memiliki rumah itu.
Merah padam wajah Umar begitu mendengar penuturan orang tua itu.
“Masya Allah, kurang ajar sekali Amr!” kecam Umar.
“Sungguh Tuan, saya tidak mengada-ada,” si kakek itu semakin gemetar dan kebingungan. Dan ia semakin bingung ketika Umar memintanya mengambil sepotong tulang, lalu menggores tulang itu dengan pedangnya.
“Berikan tulang ini pada gubernurku, saudara Amr bin Ash di Mesir,” kata sang Khalifah, Al Faruq, Umar bin Khattab.
Si Yahudi itu semakin kebingungan, “Tuan, apakah Tuan tidak sedang mempermainkan saya!” ujar Yahudi itu pelan.
Dia cemas dan mulai berpikir yang tidak-tidak.Jangan-jangan khalifah dan gubernur setali tiga uang, pikirnya. Di manapun, mereka yang mayoritas dan memegang kendali pasti akan menindas kelompok minoritas, begitu pikir si kakek. Bisa jadi dirinya malah akan ditangkap dan dituduh subversif.
Yahudi itu semakin tidak mengerti ketika bertemu kembali dengan Gubernur Amr bin Ash. “Bongkar masjid itu!” teriak Amr bin Ash gemetar. Wajahnya pucat dilanda ketakutan yang amat sangat. Yahudi itu berlari keluar menuju gubuk reyotnya untuk membuktikan sesungguhan perintah gubernur. Benar saja, sejumlah orang sudah bersiap-siap menghancurkan masjid megah yang sudah hampir jadi itu.
“Tunggu!” teriak sang kakek. “Maaf, Tuan Gubernur, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sampai-sampai Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini. Sungguh saya tidak mengerti!” Amr bin Ash memegang pundak si kakek, “Wahai kakek, tulang itu hanyalah tulang biasa, baunya pun busuk.”
“Tapi…..” sela si kakek.
“Karena berisi perintah khalifah, tulang itu menjadi sangat berarti.
Ketahuilah, tulang nan busuk itu adalah peringatan bahwa berapa pun tingginya kekuasaan seseorang, ia akan menjadi tulang yang busuk. Sedangkah huruf alif yang digores, itu artinya kita harus adil baik ke atas maupun ke bawah. Lurus seperti huruf alif. Dan bila saya tidak mampu menegakkan keadilan, khalifah tidak segan-segan memenggal kepala saya!” jelas sang gubernur.
“Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh, saya rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Dan bimbinglah saya dalam memahami ajaran Islam!” tutur si kakek itu dengan mata berkaca-kaca. (sumber : oase)

Setidaknya ada 3 hikmah yang bisa diambil dari kisah sang umar.

  1. seorang pemimpin tidak pandang bulu walaupun orang tersebut miskin, dari kalangan bawah, dan beda golongan dengannya.
  2. tidak pilih kasih dalam menghukum, walaupun anak buahnya sendiri, jika salah maka harus di hukum.
  3. aspirasi bisa disampaikan secara langsung pada pemimpin.

Betapa tenteramnya negara kita jika tauladan kepemimpinan sang umar bisa diterapkan di negeri ini. Seorang pemimpin mendengarkan dan membantu menangani setiap permasalahan yang terjadi pada rakyatnya. Rakyat dari kalangan manapun berhak mengungkapkan aspirasinya pada pemimpin. Karena setiap warga negara mempunyai hak yang sama. Jalan demo yang seringkali dijadikan sarana untuk menyampaikan aspirasi tidak akan ada jika kepemimpinan ala umar diterapkan.

pada kisah selanjutnya, suatu ketika umar bin khattab sedang melakukan inspeksi di saat beliau menjabat sebagai khalifah, menemukan seorang ibu yang seolah sedang memasak dengan kobaran api yang besar. Sementara anak-anaknya di sekelilingnya pada menangis. Beliau mendekat dan menanyakan, apa gerangan yang terjadi. Maka serta merta, sang perempuan yang tidak sadar kalau yang hadir disampingnya adalah Khalifah, mencaci dan mengutuk Khalifah Umar. Khalifah, menurut perempuan itu, tidak bertanggung jawab, tidak punya perhatian sehingga kami kelaparan. Kami tidak memiliki apa-apa untuk di masak. Umar bertanya: “Lalu masak apakah kamu?” Perempuan itu menjawab:

“Saya merebus batu-batu dengan api ini agar anak-anak saya terhibur”. Mendengar jawaban itu, segera Umar kembali ke “baitul maal” mengambil sekarung gandum dan beberapa lauk pauk. Karung itu digendong sendiri, sehingga beberapa sahabat yang menemuinya di jalan berkeinginan agar karung itu diambil dari sang Kahlifah. Namun dengan tegas Umar menjawab: “Tidak, di hari kiamat nanti, anda tidak mungkin mengambil dariku dan memikul tanggung jawab ini”.

Umar membawa gandum tersebut ke perempuan, lalu dimasakkannya, dan kemudian disuapinya anak-anaknya. Setelah semua itu dilakukan, segera perempuan itu dengan rasa malu bertanya: “Siapa gerangan engkau?”. Umar menjawab: “Saya adalah orang yang engkau katakan tidak bertanggung jawab tadi. Saya melakukan ini karena mungkin apa yang engkau katakan tadi adalah betul. Untuk itu, mohon maaf dan semoga Allah mengampuniku karena kelalaianku”. (sumber : media.isnet.org)

Umar mengeluarkan pernyataan yang dicatat oleh sejarah: “Seandainya ada seekor keledai mati karena kelaparan di daerah Palesitina, maka aku akan bertanggung jawab di akherat nanti”.

Sayang sekali pemimpin negeri ini tidak ada yang bisa mencontoh umar. Mereka lebih sibuk memperkaya diri, sibuk jalan2, sibuk ngurus partainya dan sibuk tebar pesona.

Andai sahaja pemimpin kita setiap saat, secara langsung, turun menemui rakyatnya, mendengarkan keluh kesah sang rakyat, berdialog dengan rakyat. Tidak seperti selama ini, para pemimpin kita hanya turun saat kampanye sahaja itupun dengan janji-janji surga yang belum tentu terpenuhi. Mereka sering ngobral janji yang mereka tahu bahwa janji tersebut tak mungkin terpenuhi.

Jika pemimpin bisa secara langsung menemui rakyatnya, tak ada gunanya lagi lembaga semacam DPR. Ini juga akan menyelamatkan anggaran negara yang selama ini dialokasikan untuk menggaji manusia2 yang katanya “wakil rakyat itu”. Karena memang aspirasi rakyat bias secara langsung disampaikan kepada pemimpin negeri. Rakyat tak usah lagi menggantungkan pada seseorang atau golongan yang katanya “wakil rakyat” untuk menyampaikan aspirasinya. DPR selama ini hanya mementingkan diri sendiri dan partainya sahaja.

Jika pemimpin negeri bisa seara langsung menjangkau rakyatnya, secara tidak langsung para anak buah yang menjadi pemimpin daerah harus mau mengikuti langkah pemimpin negeri untuk turun langsung pada rakyatnya.

quote of the day : jangan berjanji jika engkau tahu bahwa itu tak mungkin kau penuhi

jAnGaN pErMaiNkAn kAmI !!!!!

Nggak habis pikir dengan ulah negara tetangga kita itu. Sudah ngerebut sipadan dan ligitan, batik, mengorek-ngorek ambalat, kini dua bulan berturut-turut mempermainkan bangsa kita INDONESIA. Mereka mengklaim “rasa sayange” dengan meminta berbagai bukti. Setelah mendapat rekasi kontra dari rakyat indonesia, akhirnya mereka dengan gampangnya mencabut klaim tersebut dan mengakui bahwa lagu itu milik bersama.

Kini setelah beberapa minggu setelah pencabutan klaim, lagi-lagi si malingsial itu mempermainkan kita. Si malingsia mengklaim “kesenian reog ponorogo”. Pun dengan gampangnya *setelah didemo seribu warok* akhirnya mengakui bahwa kesenian reog adalah milik bangsa kita.

Entah apalagi yang nanti akan diklaim si malingsial. Wah jangan-jangan monas diakui juga oleh mereka. Trus kita hanya demo lalu mereka dengan gampangnya lagi, mencabut klaimnya. Negara kita sedang dipermainkan, kawan!! :evil:

Seribu Warok Reog akan Demo Malaysia

Wonogiri, CyberNews. Sekitar 1.000 warok (seniman) reog dari berbagai kota di tanah air, Kamis (29/11) mendatang, akan menggelar aksi demo ke gedung Kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia di Jakarta. Aksi ini, untuk mereaksi Malaysia yang mengklaim reog sebagai kesenian nasionalnya.Ketua Paguyuban Reog Indonesia (PRI), H Begug Poernomosidi, Minggu (25/11), menandaskan, bangsa Indonesia khususnya para warok, merasa sangat tersinggung atas klaim itu, karenanya harus tegas mengikapinya. ”Sebab kami tidak ingin bangsa Indonesia ini diremehkan dan dilecehkan,” tegas Begug yang juga Bupati Wonogiri ini.

Sebanyak 1.000 warok yang akan dikerahkan demo itu, merupakan perwakilan para seniman group-group reog dari seluruh pelosok Indonesia. ”Jumlah ini sengaja kami batasi, hanya dari perwakilan reog di Jakarta dan sekitarnya, serta dari Ponorogo Jatim sebagai bumi asal muasal kesenian reog yang legendaris itu,” katanya.

Reog dadak merak, tandas Begug, merupakan kesenian khas Ponorogo dan itu telah menjadi miliknya bangsa Indonesia. Yang dalam perkembangannya, kesenian reog telah menyebar ke seluruh Nusantara dengan memiliki sekitar 800 group. Setiap tahun, kesenian ini dilombakan di alun-alun Ponorogo dengan memperebutkan piala bergilir Presiden.

Reog Singo Giri Pemkab Wonogiri, selama lima tahun terakhir ini selalu menjadi langganan juara pada festival reog nasional di Ponorogo.

Sebagai pimpinan reog seluruh Indonesia, Begug yang juga warok reog bergelar Kanjeng Pangeran (KP) Candrakusuma Ki Ageng Andana Warih ini, menyatakan ”kebangeten” (keterlaluan) manakala sekarang Malaysia mengklaim reog sebagai seni budayanya. Betapa pun negeri Jiran menyebutkannya itu sebagai kesenian reog barongan, yang dikait-kaitkan dengan kisah dari zaman Nabi Allah Sulaiman.

Dalam ‘okezone’ http://www.heritage.gov.my yang merupakan situs Departemen Pariwisata Malaysia, disebutkan reog barongan yang di atasnya bertengger dadak merak, diklaim sebagai budaya negeri Jiran. Sebagai tarian tradisional yang berkembang di daerah Batu Pahat Johor di negeri Selangor.

Kecuali reog, juga diklaim pula kesenian musik gamelan, kuda lumping dan angklung sebagai budaya milik Malaysia. Sebab gamelan diperkenalkan ke Pahang saat pemerintahan Sultan Ahmad Muadzam Sheh.

Tarian kuda kepang (lumping), disebutkan sebagai kesenian yang mengkisahkan peristiwa peperangan pada zaman Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya, yang gagah berani memperjuangkan Islam.

Menyikapi kemunculan klaim pada sejumlah kesenian asli Indonesia ini, Begug mendesak agar pemerintah RI segera melakukan klarifikasi. ”Agar Indonesia sebagai bangsa besar yang menjunjungi tinggi seni budaya tradisinya, tidak diremehkan dan dilecehkan oleh Malaysia,” katanya.( bambang purnomo/Cn07 )

DI KOPI SECARA KEJAM DARI SINI

soempah pemoeda

Tidak terasa terasa besok tanggal 28 oktober, hari Sumpah Pemuda. Pada hari itu 28 oktober 1928 generasi muda pada jaman tersebut telah bertekad bulat menyatukan visi dan misi untuk membangun Negara Indonesia. Dengan tidak membedakan ras, suku, agama maupun budaya para generasi muda dimasa itu mengikrarkan tekad satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa INDONESIA. Sumpah Pemuda inilah yang menjadi cikal bakal pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diploklamirkan 17 agustus 1945.

Meskipun mereka relatif sangat muda dengan usia belum mencapai kematangan namun mereka tergerak nuraninya untuk merubah kehidupan Bangsa Indonesia yang tercabik-cabik oleh belenggu penjajahan. Dalam pikiran mereka hanyalah menyatukan seluruh elemen bangsa untuk memerdekakan bangsa ini.

Namun sangat ironis sekali dengan keadaan generasi sekarang yang sudah tidak lagi peduli karena mereka juga*menurut saya* adalah generasi pemimpi. Mereka dicekoki dengan mimpi-mimpi yang kosong sehingga moment Sumpah Pemuda sekarang tidak lagi dijadikan renungan dan penyemangat diri sehingga hari Sumpah Pemuda sekarang hanya diperingati dengan mengadakan upacara saja.

Berbagai Versi

Dalam penutupan Kongres Pemuda II diperdengarkanlah lagu indonesia raya karya Wage Rudolf Soepratman Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Namun beberapa bulan lalu, lagu ini menjadi bahan sorotan berbagai kalangan. Banyak yang mengklaim bahwa lagu ini mempunyai banyak versi. Ada juga yang menyebutkan bahwa lagu ini telah ditemukan diserver belanda. Kontroversipun bergulir. Sekarang yang masih banyak diperbincangkan adalah tentang lagu rasa sayange yang diklaim negara jiran. Agaknya masalah bangsa indonesia nggak ada habis-habisnya.

**** sayang* malesa minta bukti

JAKARTA - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengaku telah berkomunikasi dengan Menteri Kebudayaan dan Seni Malaysia tentang lagu Rasa Sayange. “Mereka bilang, kalau Indonesia bisa membuktikan, mereka akan melakukan sesuai kewajibannya,” ujar Jero Wacik kepada wartawan sebelum menghadiri rapat kabinet di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (3/10)

Sementara, Menteri Kebudayaan dan Seni Malaysia Datuk Seri Dr Rais Yatim menilai tuntutan Indonesia tidak realistis. Dia menyatakan isu itu tidak perlu muncul karena lagu rakyat tersebut-seperti halnya Jauh Di Mata, Burung Pungguk, dan Terang Bulan-merupakan lagu yang biasa terdengar di Kepulauan Melayu dan merupakan warisan leluhur. Di Malaysia, lagu rancak yang diperdebatkan tersebut berjudul Rasa Sayang.

“Saya kira Indonesia atau pihak-pihak lain tidak bisa membuktikan siapa pengarang lagu itu (Rasa Sayange-Red),” kata Rais seperti dilansir kantor berita Malaysia, Bernama, Rabu (3/10).

Hal senada disampaikan Menteri Pariwisata Malaysia Tengku Adnan Mansor. Pihaknya tetap akan menggunakan lagu rakyat Rasa Sayang sebagai jingle kampanye pariwisata negaranya, yang bertajuk Truly Asia.

Seniman Ambon

Menurut Jero, menggugat kepemilikan lagu tersebut bukan perkara mudah. Apalagi Indonesia tidak punya bukti. “Kepedulian kita pada hukum (hak cipta-Red) masih rendah,” kata dia.

Dia mengaku telah mengecek lagu Rasa Sayange yang digunakan Malaysia sebagai tema kampanye pariwisata. “Saya cek no name. Kalau didengarkan lagu ini memang seperti lagu Ambon, Manado, Melayu, karena budayanya mirip-mirip,” ujar dia.

“Sekarang bagaimana buktikan kalau itu karya kita. Kita masih mengumpulkan data.” Jero menyatakan puluhan ribu karya budaya belum didaftarkan hak ciptanya. “Saya berkali-kali minta para seniman kalau punya karya budaya cepat didaftarkan agar tidak mudah diklaim. Dan kalau diklaim, kita mudah menuntutnya,” paparnya.

“Saya minta para seniman Ambon, beri saya bukti. Kalau ada, agar bisa kita gunakan. Tanpa bukti kita akan sulit,” tambah dia.

Menurut penyanyi Franky Sahilatua, kasus lagu Rasa Sayange merupakan illegal recording atau pelanggaran karya cipta oleh Malaysia, seperti halnya batik. “Pencipta lagunya adalah NN (no name-Red) karena merupakan folklore dari kawasan Indonesia Timur,” kata dia.

Karena itu, kategori lagu tersebut adalah domain publik Indonesia.

Kepala Taman Budaya Maluku, Semy Toisutta menyatakan, Rasa Sayange berasal dari Maluku, bukan Melayu. Dari lirik lagu, kata dia, tak dapat dibantah, jika lagu itu memang milik orang Maluku. Huruf ”e” di akhir kata ”sayange” pada lirik lagu artinya paling sayang. DPRD Maluku siap mengadukan Malaysia ke Mahkamah Internasional.

“Kalau teman-teman di Dewan setuju, kami akan adukan persoalan ini ke Mahkamah Internasional,” kata Ketua DPRD Maluku, Richard Louhenapessy, usai berbuka puasa bersama di kompleks Pasar Ikan Higienis Tantui, Ambon, Rabu (3/10). (dtc-62) sumber penuh dari suara merdeka

kalo soeharto jd presiden lg gmn?

yah……..bukan bermaksud keluar dari pakemnya (baca:berbeda dari orang kebanyakan) tapi menurutku jamannya suharto  memerintah di negeri ini, keadaan negara tidak sesemrawut seperti sekarang ini.  kejahatan merajalela,  banyak pengangguran karena di phk, harga2 naik, barang kebutuhan langka(ex:minyak) dollar naik, krisis moral, krisis kepercayaan, wah pokoknya nggak kayak jaman suharto dulu. ya seh…….waktu reformasi aku masih SMP, nggak tahu apa2 tentang reformasi. yang jelas aku masih ingat harga beras dulu bekisar Rp.700-Rp.1000 per kilogram, sekarang berapa? dulu semuanya masih serba murah dan *ada*. sekarang? saat ini malahan aku berfikir kenapa dulu harus ada reformasi yang akhirnya akan seperti ini……….! toh kalau dulu mau menurunkan suharto harusnya dipikir dulu, direncanakan apa yang seharusnya dilakukan setelahnya (menggulingkan suharto). bukannya seperti ini , mengembar-gemborkan reformasi, uforia dimana2, tapi nggak ada yang mau mikir langkah apa yang harus diperbuat untuk menyelamatkan negeri ini……….terus terang saya lebih baik hidup di jamannya suharto yang semuanya serba *mudah*. semoga saja suharto mau lagi jadi presiden. akulah orang pertama yang akan menyaksikan pelantikannya………