pada siapa kita bicara?

Ketika adek kita yang bayi mulai mengucapkan sebuah kata, betapa bahagianya kita. Dengan susah payah dia berusaha berkomunikasi kita lewat kata-katanya yang mungkin sulit bagi kita untuk memahami apa maksud si adek. Dan ketika maksudnya tidak tercapai, tangisanlah yang menjadi senjata berikutnya.

Itu bagi adek kita yang masih bayi, bagaimana dengan kita yang sudah bertahun-tahun mengobral kata disana-sini, berbicara ngalor ngidul nggak jelas, membual dengan janji-janji, mencaci-maki, maupun berpuisi ria pada kekasih. Tentunya kita lebih lihai dengan segala keterampilan kita untuk meluapkan kata.

Kita nggak usah repot-repot kursus berbulan2 untuk mengeluarkan banyak kata, tinggal buka mulut, ribuan kata keluar dengan sendirinya. Namun jika hanya yang keluar hanya omong kosong kita bisa saja menjadi bahan tertawaan.

Pernahkah berbicara didepan banyak orang? dalam acara diskusi, seminar, pidato pada ulang tahun, ataupun hanya melontarkan pertanyaan didepan orang banyak. Terus terang bagi saya pribadi, berbicara didepan banyak orang sudah sering saya lakukan sejak SMA karena tuntutan jabatan dalam organisasi. Namun saya merasa tidak pernah bisa melontarkan kata yang bisa dimengerti oleh pendengar. Masalahnya adalah tidak semua orang mengerti apa yang kita maksudkan pada ucapan kita.

Kadangkala kita harus menyampaikan sesuatu dengan peng-logika-an yang paling sederhana agar pendengar mengerti apa yang kita maksudkan. Apalagi saya ini calon guru yang dituntut banyak bicara didepan kelas. Mungkin tahun depan saya akan PPL disebuah sekolah untuk mengaplikasikan kemampuan saya. Untuk berbicara lugas didepan kelas saya rasa belum bisa dilakukan dengan baik.

Seseorang pernah berkata, jika kita berbicara dengan pejabat, posisikan kita sebagai pejabat begitu juga jika kita berbicara dengan seorang petani, posisikan diri kita sebagai petani agar pembicaraan kita bisa terarah, tidak miss communication.

Ada juga orang yang tidak pandai berbicara, namun ia pandai mengungkapkannya lewat tulisan, walapun banyak yang menguasai keduanya (berbicara dan menulis) namun sangat jarang. Ada juga seseorang yang harus menyusun dulu kata2yang ingin disampaikan.

bagaimana dengan anda?

Iklan

One thought on “pada siapa kita bicara?

  1. “Seseorang pernah berkata, jika kita berbicara dengan pejabat, posisikan kita sebagai pejabat begitu juga jika kita berbicara dengan seorang petani, posisikan diri kita sebagai petani agar pembicaraan kita bisa terarah, tidak miss communication”

    Betul banget tuh mas…
    Bagi saya orang yang pandai bicara bukanlah mereka yang menggunakan bahasa itu terlihat intelek, keren, gaul atau apalah itu sejenisnya, tapi seseorang yang bisa menempatkan diri dimana ia akan berbicara…. Seperti post yang diatas… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s