PERSETAN DENGAN TUHAN!!!(boikot sinetron nggak mutu!!)

Ini bukan hanya bagi anda peminat sinetron dan dunia perfilman indonesia. Karena tulisan ini hanyalah tulisan anak bodoh yang hanya ingin mengetahui hukum-hukum agama yang berkaitan dengan film maupun sinetron.

Dunia sinetron Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai alur cerita yang disuguhkan pun kian hari kian berkembang sesuai tuntutan masyarakat. Dahulu mungkin yang paling laris adalah sinetron atau film drama musikal, komedi, kemudian beralih pada film film bertajuk misteri, horor, religi, berganti sinetron bertema anak muda, keluarga, dan sedikit religi. Filemnya pun sekarang paling laris masih berkaitan dengan cerita cinta anak remaja dan horor. untuk horor, ada suster ngesot, malam jumat kliwon, jaelangkung, pocong, bangsal 13, kuntilanak dan lain sebagainya.

POINNYA:

 

@ Berkaitan dengan sinetron atau misteri atau horor.

horor? hi….sueremmmmmmm 👿

Kemon bos, ini abad berapa? dikau pun tahu bangsa barat dan amerika sudah lama bikin film yang menggunggulkan kecanggihan teknologi. Mereka rela merogoh kocek hingga kantongnya sobek hanya untuk membikin film yang hebat. lalu kita? masih saja membodohi bangsa sendiri dengan menyuguhkan fenomena horor yang masih kampungan. Ini hanya akan mengakibatkan pikiran rakyat indonesia yang masih saja berkutat pada hal-hal yang berbau klenik. Apakah si bos nggak berpikir dampaknya? jangan hanya memikirkan “film ini lagi diminati” dan keuntungannya semata. Adek saya yang dulu berumur 4 tahun (sekarang 6 tahun dan sudah masuk SD) begitu ketakutan melihat iklan sinetron yang memunculkan hantu pocong. Dia sampai menangis histeris melihat iklan tersebut. Mau ngapain ajah si adek masih saja minta ditemenin. ini menimbiukan dampak traumatik yang sangat membekas hingga sekarang. Dengan memberikan pengertian ytang teerus nenerus bahwa itu hanya boongan akhirnya si adek sudah kembali ceria. Namun trumati itu masih saja tetap ada.

 

@ Berkaitan dengan masalah sinetron remaja.

Salut, salut………banget buat para pembuat sinetron. apa pasal? dimana anak-anak di kampung saya begitu memuja-muja apa saja yang ada dalam sebuah film maupun sinetron. Mereka mencoba meniru gaya pemeran film yang ada didalamnya. Meniru gaya pakaian bicara, rambut, apapun. Tapi dasar ndeso ya tetep ajah ndeso, katrok. Dan yang jelas dan paling mencolok adalah meniru gaya berpacaran. Gimana anak TK yang masih kecil sampai bertanya pada ibunya: Mah, ciuman itu apa sih mah?”

Gimana nggak shock tuch ibu?

Itu yang masih TK, yang SD makin parah, mereka sudah bisa menyatakan saling suka dan berkirim surat. yang SMP sudah mulai pacaran bergandengan tangan didepan umum lha terus yang SMA gimana?

Tentang banyaknya kasus video porno anak sekolah yang makin marak, saya tidak mengkaitkannya dengan hal ini karena saya tidak mempunyai bukti kongkret. Tapi, ini bukan berarti bukan berarti secara keseluruhan ndak terkait. Mungkin saja ada hubungannya.

@ Berkaitan dengan dialog tokoh

Sesuai dengan judul postingan saya, saya mencoba membicarakan ini. kesempurnaan dialog dalam sinetron akan memunculkan sinetron yang baik dan sekaan-akan alur cerita tampak begitu nyata dalam kehidupan riil. Yang saya ingin tanyakan adalah tentang dialog yang berkaitan dengan agama. Ya saya akui mungkin dialog yang kasar seperti bangsat, bajingan, ataupun kata-kata kasar lainnya kini telah disensor. Tapi ini tentang dialog yang membuat saya ingin bertanya dan memerlukan penjelasaan yang sedetail mungkin. Tentang agama, bukan hanya sinetron drama, tapi khususnya sinetron religi.

Begini: Apa hukumnya dialog di dalam sinetron seperti:

“Persetan dengan tuhan!”

“Jangan sebut tuhan!harta ini aku peroleh sendiri”

“Tuhan tidak adil”

dan lain sebagainya yang ada juga mengkafirkan diri (mengucapkan diaolg) namun tidak saya sebutkan.

Ya saya akui itu hanya pura2, tapi sebegitu mudahkah mengucapkan dialog begitu?

Dan terus apa hukumnya pernikahan dalam sinetron dengan dialog yang sempurna?. Ya sekali lagi mungkin pura2…tapi sekali lagi pernikahan adalah hal yang sakral.

kenapa? apa? mengapa? bagaimana?

Tolong bantu kegelisahan atau mungkin kebodohan yang begitu tampak pada diri saya.

Terima kasih sebelumya

 

49 thoughts on “PERSETAN DENGAN TUHAN!!!(boikot sinetron nggak mutu!!)

  1. kehidupan impian ditawarkan oleh sinetron keada masyarakat… dan kadang menjadi tuhan untuk urusan sosial, pembicaraan agama ataupun dosa menjadi hal yang biasa, wajar dan tak perlu dibahas lebih panjang karena dibiasakan melalui media sinetron
    jadi jangan heran kalo kebaikan menjadi langka uhmm kayaknya solusi yang bisa dijalankan hanyalah berhenti menonton sinetron dah🙂

  2. Cuma dialog, cuma script dan hanya sebuah kemasan bisnis kata-kata dan gambar.. dibalik itu apa sih yang dituju? pelajaran??? alamaak kayanya hanya yang bisa menuai makna dibalik pelajaran itu yang bisa menangkap….
    so, semua kata-kata itu tercipta oleh para kreatornya… so, sulit memahami bagaimana si kreator melahirkan kata-kata itu…
    🙂
    salam kenal tq dah melirik blogku…

  3. Sabar mas, tenang, tenang ……
    Sekarang mbikin kopi, terus ntar nonton Naruto
    naruto lebih sip mas😀

    Tentang dialog,
    Kayaknya memang dialog-dialog di sinetron itu dialog yang ndak mungkin terucap di dunia nyata.
    Sinetron itu menyedihkan mas ndak usah ditonton yah😀

  4. @ caplang
    makan mulu :mrgreen:
    @ almas
    lha ini sambil ngopi n empe trian :mrgreen:
    saya lebih suka nonton film barat dan gengster china dan kartun jepang
    @ kurtubi
    so, kreatornya yang……

    *salaman mode ON* :mrgreen:
    @ sigid
    lagi nyruput coffee mix
    sapa lagi yang nonton 👿
    wah ni jugax lagi download naruto n empe tri nya :mrgreen:

  5. *abis makan*

    tentang pelem horor dan tehnologi…
    karena setan-rasa-lokal akan tetap lebih mengena buat penonton indonesia, mangkanya ga butuh tehnologi yg canggih sangat untuk bikin pelem horor yg laku. tinggal cari artis yg enak diliat, skrip dibedain dikit, ambil bumbu legenda rakyat, dan jng lupa menggaet musisi yg lagi laku buat bikin album sontreknya:mrgreen:

  6. Kok bisa lebih bagus “Legend of Aang” daripada sinetron Indonesia ya??
    Benarkah film yg dibuat berbanding lurus dgn isi otak pembuatnya??

  7. @ caplang
    bro, gimana kalo kita joinan bikin setan2an di blogsphere?
    *serius mode ON* :mrgreen:
    @ Baliazura
    oww…gidu, ampe memaki tuhan 👿
    @ dobelden
    yupp setubuh aih….setuju 😆
    @ CY
    nyang ngomong bukan aku loch… :mrgreen:
    yess the legend of aang dan naruto tentunya 😆
    @ abdulsomad
    subhanallah…….
    *salut mode ON*

  8. Mas Abee ndak perlu gelisah apa lagi sampai geli-geli basah. Wong sinetron Indonesia itu kerja borongan koq. Jadi ya semua jadi kedodoran. Alhamdulillah sudah 3 hari ini saya ndak nonton sinetron. Soalnya tiang parabola yang didepan rumah kena jalur semenisasi. Belum dipasang lagi. Hehe….

  9. Mas Abee ndak perlu gelisah apa lagi sampai geli-geli basah. Lha wong sinetron Indonesia itu kerja borongan koq. Jadi ya kedodoran semua. Kapan-kapan kalo ada waktu kita bikin sinetron sendiri. Saya aja sudah 3 hari ini saya ndak nonton sinetron. Soalnya tiang parabola yang di depan rumah lagi kena jalur semenisasi. Belum dipasang lagi. Hehe….

  10. @ caplang
    piss…….. :mrgreen:
    @ johan suryantoro
    wah saya malah gelinjang (geli-geli ranj***) :mrgreen: kayak kolor ajah kedodoran 😆
    wah…….sayangnya saya sudah joianan bikin pelem ama caplang tuch :mrgreen:
    ya kalo sinetron…..nanti saya pertimbangkan kembali :mrgreen:
    dah bener belon OM, parabolanya?

  11. Itulah repotmya kalau produk seni, termasuk sinetron, hanya memburu pada selera pasar, hehehe😀 Agaknya sinteron telkah menjadi bagian dari sebuah industri yang dikembangkan kaum kapitalis, untung-rugi menjadi ukuran sukses. Dampaknya, anak2 kecil tersugesti untuk melakukan tindakan konyol seperti dalam sinteron yang mereka lihat. Repot jadinya. Ini membutuhkan peran Lembaga Sensor agar benar2 lebih selektif dalam menentukan jenis tayangan publik. Jangan sampai anak2 teracuni oleh adegan2 sinteron yang kurang membumi. OK, salam Mas Abee.

  12. inamal a’malu bin niat mas, semua kembali lagi ke-niatnya. saya rasa kalo para pemain sinetron itu (mungkin) dalam hatinya memang sedang membenci tuhan dan dialog yg dia mainkan merupakan manifestasi jembatan dia untuk menyalurkan kebenciannya kepada tuhan (walaupun didepan mata terlihat biasa) mungkin yaa hanya Allah yang tahu.

    Tapi kalau memang hanya sekedar memainkan peran yang dibebankan sutradara kepadanya, ya kita juga gak bisa ngomong apa2 lha wong mungkin itu satu2nya mata pencarian dia sbg pesinetron hehe..

    Tapi overall saya juga punya pemikiran yang sama dengan mas abee, kenapa sih yang seperti itu (penghinaan tuhan, atau dialog ijab kabul pernikahan) harus diucapkan??

    Saya juga gak habis pikir, emang gak ada dialog lain apa? atau mungkin saking dangkalnya para sutradara indonesia dalam menggali lebih dalam lagi , seingga mau gak mau lagi2 adegan ijab kabullah, menghina tuhan lah de el el yang sebenarnya gak perlu, karena tanpa dialog2 tsb kita pun sbg penonton jg sudah tau bhw si aktor sedang memainkan peran merit sbg calon suami atau si aktor sedang menentang tuhan??

    wallahu ‘alam.

  13. @ bambangp
    “ Tapi kalau memang hanya sekedar memainkan peran yang dibebankan sutradara kepadanya, ya kita juga gak bisa ngomong apa2 lha wong mungkin itu satu2nya mata pencarian dia sbg pesinetron hehe..

    berarti menurut anda letak masalahnya pada sang sutradara bukan pada pemainnya? saya sependapat dengan anda. karena memang semua yang tercipta dalam sinetron adalah hasil rekayasa sang sutradara. berarti sutradaranya yang K***** :mrgreen:

  14. Memang dari dulu mas, film indonesia itu bukan lagi pendukung pembangunan bangsa
    justru malah merusak dan memperlambat dari dalam kok
    dengan kerancuan dan berbagai kepura-puraannya

  15. @ anas
    memang dari segi kualitas jugax NOL BESAR hanya mengumbar kepalsuan belaka, kekayaan, kecantikan, kemunafikan, coba saja apakah para pemainnya ada yang punya rumah begitu mewah seperti disinetron?mereka jugax tidak memandang segi negatifnya “kesenjangan sosial” bukannya bikin sinetron yang bermutu tentang kehidupan sosial “asli” masyarakat indonesia, malah bikin yang serba WAH!!
    BOIKOT SINETRON NGGAK MUTU!!!

  16. menurut saya mas, kalo nikah di sinetron tuh ga papa, kan namanya beda, bukan nama asli.

    pas pengantin prianya ijab kabul, dia ga pake namanya sendiri…
    tul nda???

    kalo masalah dialog yang pake nama tuhan, sa ga tau….
    hehehe

    mudah2an mengurangi kegelisahan mas

  17. ya gitu deh mas, maka dari itu mas kalo kita muslim, mari kita doakan agar mereka mau ngerti dengan keadaan bangsa, kalo masih bengal mari kita hancurkan pembuat sinetronnya, masih ngaco doakan dengan qunut……salut buat mas yang perhatiaan dengan keadaan bangsa ini, yang lain lewat…..apaji

  18. mungkin tv swasta kita harus meng-kotak-kan jam tayangannya berdasarkan
    – range umur
    – gender
    – tingkat pendidikan
    – dan status maybe,..

  19. @ bayu
    ya mungkin harusnya gidu kali ye… :mrgreen:
    tapi……..inget nggak kasus WWF smackdown yang dolo makan korban?
    itu khan padahal uadah sengaja ditayangkan malam hari…….
    *nggak nyambung* 😆

  20. Melu komentar ahhhh…yang pasti sinetron kita banyak yang menjual mimpi…mendidik masyarakat jadi cengeng…Nggak variatif…intinya selalu anak mencari orang tua kandungnya…CAPEK DEEEEHHH…pdhl sinetron bisa menjadi media edukasi efektif, mengingat audiensnya yang bejibun..so, viva buat Si Dedi “Naga Bonar” Mizwar yang menciptakan oase di industri sinetron kita….

  21. Saya sih gak terlalu concern terhadap ide2 cerita sinetron itu. Apakah itu ide hasil jiplakan atau kreasi orisinil.

    Yang saya sedihkan adalah dari segi unsur intrinsik sebuah film yang tidak diindahkan oleh para pembuat sinetron. Sinetron sekarang tuh tidak ada sense keindahannya sama sekali, atau singkatnya tidak berseni sama sekali.

    Setting yang tidak menggambarkan situasi riil bangsa Indonesia pada umumnya, lalu penokohan yang sangat tidak tepat, amanat yang sedikit (lebih banyak dampak buruknya), dan ditambah oleh kualitas akting artis2 “karbitan” yang buruk.

    Kalau saya tidak salah, untuk menjadi seorang pemain Hollywood, seorang calon artis harus menempuh pendidikan akting dan sastra selama 3 tahun, lalu bisa melanjutkannya di Eropa selama tidak kurang dari 4 tahun. Bandingkan dengan artis2 Indonesia yang kebanyakan cuma lolos audisi karena tampang mereka yang kebetulan cantik/ganteng. Kualitasnya juga jauh berbeda.

    Kalau keadaan perfilman kita gini2 aja, kapan kita bisa majunya. KITA MENGEJEK SINETRON BUKANKAH KARENA KITA CINTA PERFILMAN INDONESIA, BUKAN ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s