ego dan prestise tingkat tinggi seorang blogger

Abeeayang yang tersayang kam bek lagi dari ketiak mamihnya dan siap-siap mengumbar nafsunya di jagat blogsphere ini.
Apa kabar semuanyah? baik-baik saja khan?  :mrgreen:
Nggak pada kangen nich amak saya?  😀
*sudah-sudah*  👿
Ah, kali ini aku nggak bikin postingan diary, model2 pakaian, atawa humor-humor katrok lagi, tapi seperti biasa (kayaknya udah sering) tentang suka-duka *hayah* pakek WP nyang gratisan inih.
WP bagiku begitu indah, begitu mudah, begitu menarik namun kadang begitu cengengnyah bahkan begitu sensitifnyah. Beberapa hal menarik terjadi seiring perjalananku menggunakan WP inih. Seperti kalimat di atas, WP ini bagiku:
  • Begitu Indah
Memang begitu indahnyah layaknyah tubuh perawan. Ya. Seperti tubuh perawan dalam setiap lekukan-lekukan tubuhnya mengundah birahi untuk menjamahnyah. Aku kadang sampai tidak tahan untuk menikmati keindahannya setiap hari, setiap waktu, hingga tak kulewatkan barang semenit untuk menjamahnya.
  • Begitu Mudah
Semudah membalikkan telapak tangan. Karena memang untuk mengoperasikan WP inih nggak sulit. Agak terkaget-kaget ketika tahu ada blogger (cewex) yang menggunakan WP inih  ternyata eh ternyata masih kuliah sekolah dasar  😯
inih membuktikan kalok WP memang begitu mudah.
  • Begitu Menarik
Iya dan inilah kebanyakan orang seperti sayah ini sangat keranjingan pada WP. Hal menariknyah antara lain ada fasilitas statistik yang memudahkan kita berapa pengunjung setiap harinyah yang mengorek blog kita. Ada jugax fenomena BODT yang menuai banyak kontroversi.
Selain ituh kadangkala aku:
  • Begitu Cengengnyah

begitu cengengnyah hingga menghapus postingan yang sudah di post kan atawa bahkan sudah jadi tinggal di post kan tapi di delet karena memang aku blogger cengeng.

  • Begitu Sensitif
Sensitif, sesensitif bokong bayi yang kemerahan ituh. Sesensitif ketika sebuah kometar dimutilasi karena dianggap sampah. Sesensitif karena perbedaan prinsip dan pemahaman tentang suatu hal. Begitu juga sesensitif ketika postingan tidak dihargai, postingan tidak dimengerti oleh khalayak, atau ketika sebuah postingan dianggap mencari trefik. Ingin meluapkan? kemana? ke siapa? dan bagaimana?
Kesensitifan ku meletup-letup dari awal ngeblog sampai sekarang :
Blog bagiku bukan hanya layanan di internet (yang gratisan tentunyah), tapi lebih dari sekedar ituh. WP itu bukan rumah fiktif tapi memang (bagiku) bener2 rumah layaknya rumah di kehidupan nyata dengan blogger sebagai penghuninyah. Jadi, blog ini adalah sebuah masyarakat yang terkumpul pada satu wilayah.
Dengan pemahaman seperti ituh, akupun sekarang bisa sedikit tahu tentang ciri, watak, maupun kekhasan seorang blogger dari tulisan2nyah (postingan atawa komentarnyah), walaupun tidak ketemu secara langsung. Bahkan mungkin di jagat blogsphere ini seorang blogger bisa diketahui lebih dalam tentang pribadinyah daripada dikehidupan nyata.
Jadi, jangan heran jika beberapa postingan kadang menimbulkan polemik. Karena memang sebuah tulisan (postingan & komentar) mewakili jiwa sang blogger. Kita kadang-kadang misuh2 karena beberapa blogger yang memposting tulisan menarik (apapun, sex contohnya) agar bertengger di BODT. Tapi terkadang begitu egoisnya, ketika dirinya sendiri yang masuk di BODT padahal tulisannyah hanya berita kopdar, curhat harian, habis jalan2 ataw apalah.  Kadang nggak terasa kita dengan emosi meluap mengkritik postingan sampah yang masuk ke BODT tapi postingan kita sendiri masuk ke BODT pun dengan postingan sampah juga. Apa adil?
Sebagai pribadi yang hidup bermasyarakat, tentu kita para blogger terkadang ada perasaan tidak suka kepada tetangga kita (melalui postingan yang kita nggak suka tentunya). Saling menggunjingkan, tidak peduli, atawa bertengkar. Ya, begitulah kehidupan bermasyarakat. Apa kita harus misuh2? dongkol sendiri? terus nggak tahan dan akhirnya memutuskan untuk mengisolasi diri (nggak blogwalking), bunuh diri (mematikan blog)? atawa malahan pindah (bikin domain+hosting sendiri agar terlihat prestise) ke masyarakat lain yang mau menerimanyah?
Kalau demikian, namanyah kalah perang sebelum bertanding. Tidak bisa menghadapi seleksi alam. Sekali lagi, namanyah hidup bermasyarakat ya begitu. Apakah kita akan melakukannya dalam kehidupan nyata? nggak tahan dengan tetangga yang mbikin ulah, terus mengisolasi diri, bunuh diri atawa pindah rumah?. Bukan! bukan begitu. Kita hanya butuh toleransi dan saling memahami. Pun mengingatkan kalau seseorang membuat kesalahan.  Agar semuanyah bisa berjalan dengan harmonis.
Satu hal lagi, kita inih semuanyah berbeda. Punya karakter masing-masing. Jangan paksa orang lain sesuai keinginan kita.
Catatan kecil:
Saya sekarang inih mempunyai 3 blog WP, satu blog di multiply, blogsome, blogspot. Namun yang kuurus hanya yang di WP. Dan kemarin waktu pulang membuat beberapa blog di WP untuk semua ekskul SMA ku. Semuanyah gratisan namun aku bangga karena bisa belajar dari sini.