Fenomena Pengemis Gaya Baru

sumbangan.jpg

Fakir miskin dan anak-anak terlantar ¨tidak” dipelihara oleh negara.

Setiap hari ada saja pengemis dan pengamen yang mampir diwarnetku berharap kocek menggelinding. Bukan hanya sesaat, tapi hampir tiap jam ada saja pengemis atawa pengamen yang mampir. Secara otomatis aku harus menyediakan recehan tiap hari.
Fenomena semakin banyaknya pengemis dan pengamen di sekitar kampusku ini terjadi belakangan ini. Dimulai sejak setahun yang lalu, banyak pengemis yang kebanyakan ibu-ibu yang ¨menyerbu¨ kampus kami. Mereka terkadang tidak sendirian, namun dua atawa tiga orang. Dengan pakaian sederhana berkerudung (bukan jilbab). Mereka berkeliaran saat jam-jam kuliah.
Cara yang mungkin (menurutku) agak beda ialah saat ibu-ibu pengemis mendatangi mahasiswa yang lagi duduk-duduk santai, sang pengemis bukan hanya menengadahkan tangan, namun dengan cara memelas menengadahkan tangan sambil berlutut. Agak risih jugax, namun terkadang mereka (para mahasiswa) akan menjadi iba dan selanjutnya kocekpun bergulir.
Mahasiswa yang risih dengan fenomena ini mengajukan permohonan kepada pihak universitas dan kelurahan setempat untuk menertibkan para pengemis tersebut. Dengan bekerja sama dengan POLMAS (polisi masyarakat) pihak universitas menertibkan para pengemis yang berkeliaran di area kampus.
Salah satu pengemis saat di wawancarai reporter buletin kampus, mengakui bahwa, alasan mereka memilih area kampus untuk mengemis ialah mereka menilai para mahasiswa lebih iba terhadap mereka dan tidak segan-segan untuk mengeluarkan koceknya. Mereka (pengemis) jugax beralih ke area kampus karena di jalan maupun di kota, mereka takut akan terjaring razia lagi.
Walaupun sudah dirazia dan di larang oleh pihak kampus dan kelurahan namun mereka kini kembali berkeliaran dikampus.
Ada fenomena lagi (sesuai judul postingan) adalah fenomena pengemis gaya baru (di sini). Pelakunya juga kebanyakan seorang ibu-ibu. Mereka tidak meminta-minta dengan menengadahkan tangan. Pakaiannya pun agak bersih dengan payung ditangan dan menenteng sebuah map. Usut punya usut ternyata map itu bertuliskan surat pernyataan dari sebuah yayasan untuk meminta sumbangan. Entah yayasan dari mana yang jelas banyak yang menilai kalau itu cuman yayasan fiktif.
Aku sempat merasa jengkel, iba, sekaligus geli dan ingin tertawa, pokoknya campur aduk. Kemarin ada seorang ibu-ibu dengan anaknya (membawa map dan payung) hendak ke warnetku. Ah, paling seperti biasanyah kayak yang lain, meminta sumbangan. Saya kira mau ke warnet, namun ternyata sang ibu menunggu diluar sambil duduk-duduk, dan sang anak (kayaknya berumur 7 tahuanan) yang disuruh masuk ke warnet untuk meminta sumbangan. Si adek kecil itupun menyodorkan mapnya kepada kami. Dan seperti biasa sesuai anjuran ketua RT kalau tidak boleh memberikan sumbangan dadlam bentuk apapun, kamipun menolaknya (waktu ituh aku amak si bos). Si bos pun menolak map si adek. Tapi ternyata si adek kecilpun merengek terus.
Mungkin karena ditolak terus akhirnya si adek melihat minuman di lemari pendingin dan merengek meminta minumannya.
¨pak, minta mimiknya….¨
*busyet aku di panggil pak*
äkupun mengambilkan aqua gelas dan memberikannya
¨yang besar itu pak…¨ rengeknya
Akhirnya aku pun mengambilkannya, ia pun senang dan segera keluar menemui ibunya.
Aku dan si bos geleng-geleng kepala.
¨hebat ya ibu itu, memanfaatkan anak kecil¨ gerutu si bos…