SIM dan Dompet

Sayah hanyah maok cerita kalok SIM (surat ijin melamar mengemudi) punyak sayah retak dan hampir patah. padahal tuh SIM belon ada setahun dibuat. kejadiannyah kemaren ketika sayah mbuka dompet, buat ngeluarin STNK (motor sayah dipinjem si bos buat mudik). Ternyatah SIM yang sayah taruh bersama STNK retak dan patah separo. OMG!!  😯

Padahal sayah udah make dompet eiger ukuran panjang (kayak dompet ceweks). sayah hanyah bisa menduga-duga. mungkin karena sayah dudukin tuh dompet atau karena tertindih badan sayah waktu tidur. yang jelas SIM sayah sekarang retak.

teman sayah jugax ada yang SIMnyah patah jadi dua, tapi dia rekatkan amak tempat simcard HP dibagian belakangnyah. jadi kalok diperikasa polisi masih bisa dibaca bagian identitasnyah (bagian belakang kan cuma pasal2 ya kan bro?). simbaks yosi (partner kerja) bilang kalok ketemuh polisi saat pemeriksaan ketahuan SIMnya retak, bakalan dipatahin sekalian amak tuh polisi. wah kalok begituh sayah bakalan nuntut nich!.  😈

sekarang sayah tambah ati2 biyar SIM sayah gak patah jadi dua. untuk mengantisisapi *hayah*, rencananyah sekarang sayah maok mbeli tas pinggang (yang biasa dipake para petualang ituh, nambahin koleksi sayah) buat naruh tuh dompet. sayah pikir kalok dompet ditaruh ditas, kayak ceweks ajah!. yawdah sayah maok mbeli tas pinggang ajah. buat naruh tuh dompet dan ngelindungin biar SIM sayah gak jadi patah. mumpung distronyah lagi ada diskon 30%.  😎

tas*gambar nyomot dari mbah google cos sayah belon mbeli*  :mrgreen:

Nyritain inih sayah jadi inget amak sebuah analogi (atau apa sayah gak begituh mudeng haks2). ceritanyah tentang nasihat seorang ibu pada anaknya.

Nak, pakailah sepatumu agar kakimu tak luka karena kerikil dan paku.

si anak pun mengikuti anjuran ibunya untuk memakai sepatu. keesokan harinya, saat si anak telah terbiasa memakai sepatu.

Nak, pakailah kaus kakimu agar kakimu tak lecet-lecet ketika memakai sepatu.

hmmm…jadi, barang apa yang lebih melindungi kakimu? tentu anda bisa menjawabnya, bukan?  :mrgreen:

terakhir……

Abeeayang maok ngucapin selamat tahun baru 1430 H. Semoga apa yang direncanakan ditahun ini bisa terlaksana dengan baik. dan Allah pemilik segala sesuatu, memudahkan segala urusan kita. maaf kalau saya pernah berbuat salah sama sampeyan semua.


dilangkahi

Simbok yang sedari tadi mondar-mandir ngurusin masakannya di dapur tiba-tiba berhenti. Suara gaduh  peralatan dapurpun  berhenti. Bau masakannya menyembur. Harum. Agaknya masakan simbok telah matang. Beliau lalu membersihkan dapurnya yang kotor dan menata makanannya. Cacing diperutku seakan berteriak kegirangan menyambut simbok yang telah selesai menunaikan kewajibannya. Aku beranjak dari berbaring dan duduk memandangi semua masakan simbok.

“Asyik…sudah mateng, mbok?”

Simbok hanya tersenyum. Sambil memanggil si bungsu ia menyiapkan nasi untukku. Aku sangat senang dengan masakan simbok. Tapi terkadang aku tidak bisa memakannya terlalu lahap seperti adik lelakiku yang kekar itu. Dua centong saja sudah membuatku kenyang. Mungkin lambungku hanya muat sedikit. Berbeda dengan adikku. Ia biasa makan dua kali lipat jatahku. Tapi mungkin itu sudah sesuai porsi tubuhnya itu.

Simbok duduk di depanku. Aku pikir beliau akan makan bersamaku. Dugaanku meleset. Raut mukanya agak serius tak seperti biasanya. Memandangiku terus. Aku jadi salah  tingkah.

“Suf…?”

“Iya, mbok?”

“kamu ndak apa-apa kan, kalau kamu dilangkahi adikmu?”

“ndak apa-apa, mbok. lagian aku kan belum kerja…”

“yowes kalo gitu”

“memang calonnya siapa, mbok?”

“itu…tetangganya pamanmu. orangnya sudah mapan. sudah punya rumah juga. kamu yang ikhlas ya, suf?!”

“iya, mbok. ya sudah kalo gitu aku ikhlasin saja”

Simbok beranjak ke dapur kembali. Kemungkinan beliau akan memasak air untuk bapakku. Pikiranku menerawang. Adik perempuanku sebentar lagi akan dinikahkan dengan lelaki pilihan orang tuaku. Setelah kemarin dulu dua sepupuku dilangkahi adiknya, kini giliranku. Aku dilangkahi. Aku akan punya adik ipar.

**************

Beberapa hari yang lalu bapak menelponku. Tak seperti biasanya, beliau mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan. Aku dimintanya pulang kerumah esok pagi. Aku hanya mengiyakannya saja. Sambil menutup telpon, pikiranku melayang. Ada apa gerangan yang ingin bapak bicarakan denganku. Aku hanya bisa berpikir positip tentangnya. Aku pun merebahkan tubuhku dikasur.

Aku tiba-tiba teringat pembicaraanku bersama simbok dulu. Tentang rencana simbok menikahkan adikku. Aku jadi berpikir jangan-jangan bapak memintaku pulang besok  ada hubungannya dengan rencana pernikahan itu. Kemungkinan besok adalah acara lamarannya adikku. Ya, mungkin besok lamarannya.

Malam harinya aku berkemas-kemas untuk pulang besok. Aku hanya membawa dua stel pakaian saja. Karena kemungkinan aku tidak akan lama dirumah. Kupinjam juga dari wahyu sebuah kamera digital. Aku pikir akan berguna besok untuk mengabadikan moment itu. Setelah dirasa cukup, aku beranjak tidur agar tidak terlalu letih esok hari di perjalanan.

****************

Matahari bersinar begitu terik. Awan bercerai-berai seperti bermusuhan saja. Anginpun tak tahu kemana rimbanya. Hanya sibungsu yang berlari riang menyambutku dari kejauhan. Seperti biasanya, ia selalu bersemangat sekali menyambutku kala  aku pulang kampung. Ia tak lupa menanyakan oleh-oleh apa yang aku bawa. Ia akan cemberut setelah tahu aku tak membawakanya sesuatu. Sebagai gantinya, selembar uang ribuan kuberikan padanya. Itu lebih dari cukup untuk ukuran anak kelas  dua sekolah dasar di kampung. Ia kembali sumringah dan memelukku erat. Setelahnya, biasanya sibungsu akan menampar-nampar wajahku dan memainkan hidungku. Mungkin itu wujud kerinduannya padaku.

Aku memarkirkan motorku dihalaman. Mataku memperhatikan sekeliling halaman. Tak terlihat  apa yang seharusnya. Aku jadi heran, bukankah harusnya kursi dan meja dikeluarkan?. Pikiranku menerawang. Aku terkejut ketika simbok juga ternyata lagi sibuk membenahi bawang merah hasil panennya. Aku langsung masuk kedalam gubukku. Kali ini aku bertambah heran. Keadaan rumahpun masih seperti biasanya. Tak terlihat penataan akan ada acara penting digubuk itu.

“Jangan-jangan dugaanku kalau adikku dilamar hari ini salah!” pikirku.

“ada apa sebenarnya? kenapa bapak bilang ditelepon kemarin ada hal penting?” pikirku semakin dalam.

Aku masuk kekamar. Menaruh segala yang ada dibadanku, tas, helm dan lainya. Aku rebahkan tubuhku dikasur. Pikiranku masih saja menerawang. Menebak-nebak sekuatku. Ibu masih sibuk. Bapak belum pulang. Kutanyakan kepada siapa kebingungan ini?. Sibungsu yang sedari tadi membuntutiku menjadi pengakhir keherananku.

“nok, katanya Yu Tuti mau dilamar? Kok gak ada apa-apa?”

“ndak, mas!. Lha wong Yu Tuti belum pulang!. Mas yang mau dinikahkan.” jawabnya

Aku terperanjat.

“sama siapa?” tanyaku bertambah heran.

“sama simbok Suti’ah”

“apa?! nenek-nenek itu?!” aku terperanjat.

Sibungsu berlari kehalaman. Pikiranku semakin ruwet. Kembali menebak-nebak kebenaran yang disampaikan sibungsu. Ia masih lugu. Tak ia mungkin berbohong apalagi denganku. Tapi yang menjadi masalah adalah kenapa aku harus dinikahkan dengan simbok Sutiah, nenek-nenek yang janda itu. Apakah ada maksud dibalik semua ini? Pikiranku bertambah lelah dibarengi dengan letihnya perjalananku pulang kekampung halaman. Tubuhku lunglai. Tak tahu apa yang terjadi lagi aku terbawa mimpi.

***********

Bapak tiba-tiba membangunkanku dari lelapnya mimpi. Beliau menyuruhku mandi dan memakai pakaian yang rapi. Aku pun menurut saja. Beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi. Aku  berjalan melalui dapur . Disitu simbokku dibantu bibi sedang menyiapkan nasi tumpeng. Aku memperhatikan sejenak. Aku kembali berlalu kekamar mandi. Pikiranku masih kosong belum bisa berfikir karena keadaanku memang baru beranjak bangun dari tidur.

Setelah mandi aku langsung berpakaian rapi seperti perintah bapak. Tercium bau kemenyan menyembur-nyembur . Asapnya pun memenuhi ruangan. Aku masuk keruang tamu. Disitu telah duduk berderet dikursi tiga orang pamanku, haji Datas tetangga depanku dan pak Lebe. Semua tersenyum padaku. Bapakpun masuk keruang tamu dengan membawa nasi tumpeng dan memberikanku dua amplop. Pukul lima sore tepat acara yang masih membuatku bingung ini pun dimulai.

Pak Lebe menyuruh aku dan simbok Suti’ah duduk di tikar. Pak Lebe pun berpidato panjang lebar. Ia menjelaskan bahwa acara ini adalah selamatan biasa. Acara ini adalah acara adat ditempatku yang diperuntukan kepada seorang lelaki yang dilangkahi adiknya menikah. Menurut kepercayaan, seorang lelaki yang dilangkahi adiknya menikah harus dilakukan acara selamatan. Tujuannya agar sang kakak selamat dan tidak sial.Mendengar penjelasan pak Lebe, aku jadi lega.

“Suf, berikan amplopnya pada simbok Suti’ah” perintah pak Lebe

Pak Lebe pun mendekati aku dan simbok Suti’ah. Ia pun berkomat-kamit memanjatkan doa didepan kami.

“mbok…si Mas’e mau dilangkahi adiknya, simbok ikhlas kan mbantu acara ini?” Tanya pak Lebe pada simbok Suti’ah dan dijawab anggukan simbok.

“berikan amplop satunya lagi, mas” perintah pak Lebe padaku.

Mulut pak Lebe kembali berkomat-kamit.

Aku baru ingat adat istiadat ini memang harus dilakukan. Kepercayaan dikampungku memang begitu. Apalagi yang dilangkahi itu seorang perempuan. Jika sang perempuan dilangkahi nikah oleh adik perempuan juga, maka menurut kepercayaan, sang kakak sulit mendapat jodoh.

lain daerah lain pula adatnya. Disebuah daerah jika ada seorang lelaki dilangkahi adik perempuanya maka calon suaminya harus memenuhi permintaan sang kakak. Apapun permintaan sang kakak.

=========

Lebe : kadang jadi penghulu kadang jadi imam dalam menyolatkan mayit dan mendoakan mayit.

Cerai

Warti, perempuan berumur 30 tahun dengan perawakan kecil dan berambut pendek. Sejak menamatkan sekolah menengahnya, ia pun mengambil sekolah perawat bayi. Selain mengikuti jejak mbak Yani, saudara tuanya, ia pun bermaksud menopang kehidupan keluarganya. Setelah setahun lamanya ia menimba ilmu keperawatan bayi, ia bersama beberapa teman sekolah perawat, pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan sesuai bidangnya.

Setahun berlalu dengan cepatnya sejak ia pergi meninggalkan kampung halamannya untuk bekerja. Di Jakarta, ia begitu beruntung mendapatkan majikan yang begitu perhatian dengan dia. Merawat bayi berusia dua tahun bukan persoalan sulit baginya. Ia sudah terlatih sejak di pondokan sekolah perawat bayi dahulu. Karena kerjanya yang baik, sang majikan sering memberikan gaji lebih padanya. Ia gunakan separuh lebih gajinya untuk si mbok Painem, ibunya, dan untuk menyekolahkan Ari dan Bambang adiknya yang masih membutuhkan uang banyak untuk biaya sekolah.

Kehidupan ekonomi keluarga Warti bisa dibilang lebih terangkat. Bapak ibunya hanya seorang petani yang kesehariannya mengandalkan hasil bumi. Sejak mbaks Yani berkeluarga, Wartilah tulang punggung keluarganya. Ia mati-matian menyekolahkan adiknya agar jadi orang. Ia menjadi sedikit lebih lega ketika Ari hampir selesai masa studinya di sebuah STM. Ia berharap manakala nanti Warti sudah tak bisa bekerja lagi, Ari lah yang menggantikannya menopang kehidupan ekonomi keluarga sekaligus membiayai si bungsu, Bambang.

**********

Pak Abdul, ayah nya, sudah dua tahun belakangan menderita sakit. Walaupun sudah dirawat di rumah sakit beberapa minggu, sakitnya tak kunjung sembuh. Agaknya penyakit menua yang ditangguh ayahnya akan terus kambuh. Demi menanggung kesembuhan ayahnya, ia lebih giat lagi dalam bekerja. Gonta-ganti majikanpun dilakukannya demi mendapatkan gaji yang lebih untuk mengobati penyakit ayahnya. Bantuan dana dari mbak Yani sedikit meringankan beban Warti.
Namun keadaan ini tak berlangsung lama karena Tuhan berkehendak lain. Pak Abdul menghembuskan nafas terakhir karena tak sanggup melawan penyakit menuanya itu. Warti berduka. Seluruh keluarga berkabung. Tetangga berkerumunan untuk melayat. Semua orang berduka. Dengan musibah ini ia mencoba lebih tegar lagi menghadapi cobaan hidup. Ia pun kembali ke Jakarta setelah tujuh hari pemakaman ayahnya.

***********

Warti kali ini berpindah majikan lagi. Namun ia bermaksud menjadikan pindahan ini untuk yang terakhir kali. Ia cukup lega karena Ari telah lulus STM dan sudah bekerja di pabrik perakitan sepeda motor. Gajinya lumayan besar. Dua kali lipat lebih dari gaji Warti. Wartipun cukup senang karena penopang keluarga tak hanya dia. Ia sudah cukup menopang kehidupan keluarganya. Sudah ada Ari yang nanti menggantikannya. Sudah saatnya ia memikirkan untuk berkeluarga sendiri.
Seorang pemuda, yang juga perantauan, bernama Ardy menaruh hati pada Warti. Ardy seorang buruh pabrik yang tinggal didekat tempat tinggal majikan Warti. Setiap hari sepulang bekerja, Ardy sering melihatnya keluar berjalan-jalan disekitar kompleks. Setelah dirasa cukup, Ardy memberanikan diri untuk berkenalan dengan Warti. Warti menyambutnya dengan suka hati. Ia pun diam-diam menaruh hati juga pada Ardy.
Masa perkenalan mereka tak berjalan begitu lama karena dengan mantap hati, Ardy melamar Warti pada orang simbok Painem. Dua bulan setelahnya, mereka pun melaksanakan sunah Rasul. Mereka melaksanakan akad pernikahan dirumah Simbok Painem. Suasana suka cita menyelimuti kedua sejoli itu. Namun dalam hati, Warti juga mengandung duka karena dalam pernikahannya, ia tak mengantongi doa dan restu ayahnya.
Setahun setelah pernikahan mereka, seorang bayi mungil lahir dari rahim Warti. Sang ayah memberinya nama Imamudin. Pernikahan itu begitu sempurna dengan hadirnya Imam ditengah-tengah mereka. Si kecil menjadi penyatu dalam cinta keduanya.
Kehidupan rumah tangga Warti hampir tak pernah ada masalah berarti. Adem ayem saja karena hampir-hampir tak ada ribut-ribut kecil dari mereka. Keadaan ini berlangsung hingga si kecil genap berusia setahun. Sejak Ardy di PHK dari pabriknya, ia kerja serabutan. Mungkin ini tak masalah bagi Warti. Namun kelakuan bejat sang suami muncul dikemudian hari. Sang suami sering mabok dan main judi. Ditambah lagi penyakit bengek Ardy yang kumat-kumatan menambah masalah keluarga mereka begitu pelik.
“Mas! Kalau sampeyan masih seperti ini, mending aku kerja lagi! Aku mau pergi!”. Kata Warti saat suaminya pulang.
Ardy hanya diam dan langsung masuk ke kamar.
Begitu hancur luluh hati Warti demi melihat sikap suaminya seperti itu. Ia menjadi semakin mantap hati untuk meninggalkan suaminya itu. Walaupun dikemudian hari ada rasa sesal, Warti tetap saja bertekad meninggalkan suaminya. Ia ingin minggat. Entah kemana arah tujuannya.
Dengan rasa kesal sekaligus kecewa atas sikap suaminya, ia pulang ke kampung halamannya bersama si kecil. Ia kemudian menitipkan Imam pada sang mertua. Ia sendiri mengurus keperluan untuk menjadi TKW diluar negeri. Tekadnya semakin bulat. Berangkat juga Warti ke Taiwan menjadi TKW dan bekerja seperti dulu sewaktu masih lajang.
Di Taiwan Warti menjadi lebih baik tak diusik oleh ulah suaminya lagi. Namun dalam lubuk hatinya, ia sangat rindu dan mengkhawatirkan si kecil. Hasil jerih payahnya, ia kirimkan ke desa untuk membeli keperluan si kecil. Ia menjadi sangat marah ketika uang hasil jerih payahnya diambil oleh sang suami. Digunakan untuk keperluan suaminya dan untuk berobat sang suami. Warti semakin kecewa karena ia sudah begitu muak dengan ulah suaminya itu. Satu hal harapan yang ada dihatinya:
“sepulang dari Taiwan, aku akan menuntut cerai darinya”

==========================

mohon dengan sangat, kritikannya, pak! :mrgreen:

Melepasmu Vs Saat Terakhir

Melepasmu By Drive

tak mungkin menyalahkan waktu
tak mungkin menyalahkan keadaan
kau datang di saat membutuhkanmu
dari masalah hidupku bersamanya

semakin ku menyayangimu
semakin ku harus melepasmu dari hidupku
tak ingin lukai hatimu lebih dari ini
kita tak mungkin trus bersama

satu saat nanti kau kan dapatkan
seorang yang akan dampingi hidupmu
biarkan ini menjadi kenangan
dua hati yang tak pernah menyatu

maafkan aku yang membiarkanmu
masuk ke dalam hidupku ini
maafkan aku yang harus melepasmu
walau ku tak ingin

Saat Terakhir By  ST 12

tak pernah terpikir olehku
tak sedikit pun ku menyangka
kau akan pergi tinggalkan ku sendiri

begitu sulit ku menyangkal
begitu sakit ku rasakan
kau akan pergi tinggalkan ku sendiri

* di bawah batu nisan kini kau tlah sandarkan
kasih sayang kamu begitu dalam
sungguh ku tak sanggup ini terjadi
karna ku sangat cinta

** ini lah saat terakhirku melihat kamu
jatuh air mataku menangis pilu
hanya mampu ucapkan selamat jalan kasih

satu jam saja ku telah bisa
cintai kamu kamu kamu di hatiku
namun bagiku melupakanmu
butuh waktuku seumur hidup

satu jam saja ku telah bisa
sayangi kamu di hatiku
namun bagiku melupakanmu
butuh waktuku seumur hidup

di nantiku

satu jam saja ku telah bisa
cintai kamu kamu kamu di hatiku
namun bagiku melupakanmu
butuh waktuku seumur hidup

satu jam saja ku telah bisa
sayangi kamu di hatiku
namun bagiku melupakanmu
butuh waktuku seumur hidup

me-Rindu-kanmu

Rindu, itulah nama yang kau kenakan dalam sebuah bilik yang kau gunakan untuk mengungkapkan rasa cintamu padaNya. Kau gunakan pula tempat itu untuk merajut setiap pemilik hati yang singgah dalam bilikmu itu. Jemarimu menari riang dalam setiap untaian makna yang terukir indah untuk sekedar mewujudkan siapa dirimu,  membius setiap hati yang merindumu dan melafalkan untaian kasih dan rindumu padaNya.

Kau sebut dirimu sebagai sosok wanita yang tengah mencari makna hidup, arti napas, yang sedang belajar mencari arti kehadiran demi kehadiran dan kepergian demi kepergian. Yang mencoba belajar tentang arti IKHLAS arti SABAR arti MENCINTAI dan DICINTAI dan  sedang mendekatkan diri kepada ILLAHI pemilik napasmu.

Rindu, entah apa yang membuatmu sejenak berhenti menarikan jemarimu. Adakah keengganan yang menyelimutimu ataukah sesuatu yang menyurutkanmu? tapi, setiap hati yang terpaut olehmu masih merasakan jejak-jejakmu di bilik itu. Tak tahukah kau hati ini merindumu?

——————-

—-

— Bismillahirrohmanirrohim

Ya allah jika engkau pertautkan hatinya padaMu,

jadikanlah ia bidadari dunia dan akhiratMu

yang tak pernah terhalang rahmat dan kasihMu

jadikanlah ia tauladan setiap Hawa

jadikanlah setiap tutur katanya kebun hikmah

perilakunya jadi ibadah

dan bersamanya jadi barokah…….

amien…

malam

malamku semakin larut

namun mataku masih terbelalak

memandangmu dalam anganku

asaku temukan kerinduan hati

tuk temui diri mu

kau yang jauh disana

membekapku dalam asa

kini malamku semakin larut

dan memintaku tuk katakan……..

“met bobok sayang, moga mimpi indah”

—————–dalam kesunyian malam dikursi server warnet,-

di balik postingan sampah abee

ngebaca komengtar kang Fachri disini, beliau nyaranin kalok setiap postingan (nyang kebanyakan curhat narcis najis sayah, hahahaha) harus dikasih hikmah biyar ada manfaat bagi orang laen. hmmmm…ngebaca komengtar ituh, sayah jadi malu dan ngaca sendiri pada diri sayah. apakah setiap postingan sampah sayah di blog ini udah memberikan semacam pelajaran nyang berarti bagi orang lain nyang ngebacanyah.

di postingan sampah ituh, sayah sengaja mbikin forum pendapat sahabat abee mengenai blog sayah. sayah sangat berterima kasih pada sahabat semuah yang telah memberikan apresiasi pada postingan sampah tersebut. terima kasih atas berbagai saran nyang mangsup. sayah terima dan sayah langsung terapkan. contohnyah sarangnyah dindacute, sayah langsung ngganti tema jadi 3 kolom, udah khan, din?  :mrgreen:

wokeh sayah bukak sedikit mengenai *hayah* postingan sampah2 sayah  selama ini.  yuks, mare….kitah mulai dari gaya tulisang sayah. awalnyah sayah memang makek tulisan wajar sesuai dengan EYD, hehehehehe…tapi lama kelamaan, sayah kepingin  punyak ciri khas sendiri. menjadi pribadi yang unik, enak bukan? hehehehe karena setiap pribadi memang unik. tapih walopong begituh, sebenarnyah tulisan sayah ini kalok dibaca, sesuai pengucapan lidah orang jawa dan ucapan orang sehari-hari. ya memang tulisangnyah beginih. *maksa njelasin*. bagi beberapa orang nyang belon terbiasa atawa baru sempet melihat blog sayah inih, akan kebingungang mbaca tulisang sayah. sukurin!!!!!!  😆

walopong begituh *daritadih walopong trus*, dibeberapa tulisan sayah nggunain bahasah sesuai EYD, itu bagi postingan2 nyang agak serius kayak postingan inih. jadi, sering2lah mampir ke blog sayah, dan apalin tuch tulisang sayah.  😆

lanjut, mengenai tema tulisan sayah, *wah…nyang ini sayah dari dolo udah sering ngejelasin* kalok sampah2 sayah ini tidak mengandung *hayah* tema apapun, bukan tentang motor, lowongan pekerjaan, hobby, gadget, atau apapun. blog sayah bukan blog tematis semacam itu. blog sayah inih blog gado2    😆   :mrgreen:

dan tentang komengtarnyah bang Okta Sihotang, sayah memang salut banget sama pak sawali, kang mas sekaligus guru bagi sayah. *ngaku2* sayah belon pantas menulis tentang dunia pendidikan seperti beliau itu. tulisan sekaliber pak sawali agaknyah memang hanya cocok buat orang2 yang…..memang cocok untuk menulis tema ituh. hehehehehehe. jadi saya fikir, biarlah orang2 seperti pak sawali saja. udah ada bagiannyah masing2. sayah bagian nulis nyang inih2 sahaja. hehehehehehe…tapi diblog sayah tak selingi jugax kok tentang dunia pendidikan. contohnya disinih:mrgreen:

nah….sekarang nyang terakhir, memang akhir2 inih sampah2 sayah tentang curhat narcis najis sayah, hehehehehehe, inilah gaya penulisan sayah *hayah* sayah “ngasih sesuatu” lewat curhat najis cerita. memang sayah gak pernah ngasih sesuatu nyang dimaksud kang fachri . sayah sengaja membiyarkeun para pembacah sampah2 sayah untuk menerka-nerka sendiri apa yang bisa diambil manfaatnyah dari sampah sayah ituh. biyarlah pembaca ber-persepsi *hayah* dan berkelana dengan imajinya sendiri  hehehehehehe.

sudah yaks..ituh sahaja….  :mrgreen:

———————————————————————

kalok di balik postingan anda apaan?

NOMOR POKOK WAJIB PAJAK

1. Pengertian

Nomor Pokok Wajib Pajak adalah suatu sarana administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak.

2. Fungsi

  • Sebagai tanda pengenal diri atau identitas pajak.
  • Untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan.

3. Pencantuman NPWP

NPWP harius dituliskan dalam setiap dokumen perpajakan, antara lain pada:

  1. formulir pajak yang digunakan wajib pajak

  2. surat menyurat dalam hubungan dengan perpajakan.

  3. Dalam hubungan instansi tertentu yang mewajibkan mengisi NPWP.

4. Pendaftaran NPWP

semua wajib pajak berdasarkan self assessment wajib mendaftarkan diri pada kantor pelayanan pajak atau kantor penyuluhan dan pengamatan potensi perpajakan yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan. Wajib pajak untuk dicatat sebagai wajib pajak dan sekaligus mendapatkan NPWP. Kewajiban mendaftarkan diri berlaku pula untuk wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta.

Apabila berdasarkan data yang diperoleh atau dimiliki oleh direktorat jendral pajak orang pribadi atau badan telah memenuhi syarat untuk memperoleh NPWP, dan orang pribadi tersebut tidak mendaftarakan diri, dapat diterbitkan NPWP secara jabatan.

Kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dibatasi jangka waktunya, karena hal ini berkaitan dengan saat pajak terutang dan kewajiban mengenakan pajak terutang. Jangka waktu pendaftaran NPWP adalah:

  • bagi wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dan wajib pajak badan, waji mendaftarkan diri paling lambat 1 bulan setelah usaha mulai dijalankan.
  • Wajib pajak orang pribadi yang tidak menjalankan suatu usaha atau pekerjaan bebas apabila sampai dengan suatu bulan memperoleh penghasilan yang jumlahnya telah melebihi PTKP setahun, wajib mendaftrakan diri paling lambat pada akhir bulan berikutnya.

Terhadap wajib pajak yag dengan sengaja tidak mendaftarkan diri, untuk mendapatkan NPWP akan dikenakan sanksi perpajakan.

5. Sanksi

bagi mereka yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri, atau menyalahgunakan atau tanpa hak NPWP sehingga menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara , diancam dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling tinggi 4 kali jumlah pajak ang terutang yang tidak atau kurang dibayar.

6. Penghapusan NPWP

Penghapusan NPWP dilakukan dalam hal:

  • wajib pajak orang pribadi meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan.
  • Wanita kawin tidak dengan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan.
  • Warisan yang belum terbagi dalam kedudukan sebagai subjek pajak sudah selesai dibagi.
  • Wajib pajak badan yang telah dibubarkan secara resmi berdasarkan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
  • Bentuk usaha tetap yang karena sesuatu hal kehilangan statusnya sebagai badan usaha tetap.
  • Wajib pajak orang pribadi lainnya selain yang dimaksud dalam huruf a dan huruf b yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai wajib pajak.