dilangkahi

Simbok yang sedari tadi mondar-mandir ngurusin masakannya di dapur tiba-tiba berhenti. Suara gaduh  peralatan dapurpun  berhenti. Bau masakannya menyembur. Harum. Agaknya masakan simbok telah matang. Beliau lalu membersihkan dapurnya yang kotor dan menata makanannya. Cacing diperutku seakan berteriak kegirangan menyambut simbok yang telah selesai menunaikan kewajibannya. Aku beranjak dari berbaring dan duduk memandangi semua masakan simbok.

“Asyik…sudah mateng, mbok?”

Simbok hanya tersenyum. Sambil memanggil si bungsu ia menyiapkan nasi untukku. Aku sangat senang dengan masakan simbok. Tapi terkadang aku tidak bisa memakannya terlalu lahap seperti adik lelakiku yang kekar itu. Dua centong saja sudah membuatku kenyang. Mungkin lambungku hanya muat sedikit. Berbeda dengan adikku. Ia biasa makan dua kali lipat jatahku. Tapi mungkin itu sudah sesuai porsi tubuhnya itu.

Simbok duduk di depanku. Aku pikir beliau akan makan bersamaku. Dugaanku meleset. Raut mukanya agak serius tak seperti biasanya. Memandangiku terus. Aku jadi salah  tingkah.

“Suf…?”

“Iya, mbok?”

“kamu ndak apa-apa kan, kalau kamu dilangkahi adikmu?”

“ndak apa-apa, mbok. lagian aku kan belum kerja…”

“yowes kalo gitu”

“memang calonnya siapa, mbok?”

“itu…tetangganya pamanmu. orangnya sudah mapan. sudah punya rumah juga. kamu yang ikhlas ya, suf?!”

“iya, mbok. ya sudah kalo gitu aku ikhlasin saja”

Simbok beranjak ke dapur kembali. Kemungkinan beliau akan memasak air untuk bapakku. Pikiranku menerawang. Adik perempuanku sebentar lagi akan dinikahkan dengan lelaki pilihan orang tuaku. Setelah kemarin dulu dua sepupuku dilangkahi adiknya, kini giliranku. Aku dilangkahi. Aku akan punya adik ipar.

**************

Beberapa hari yang lalu bapak menelponku. Tak seperti biasanya, beliau mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan. Aku dimintanya pulang kerumah esok pagi. Aku hanya mengiyakannya saja. Sambil menutup telpon, pikiranku melayang. Ada apa gerangan yang ingin bapak bicarakan denganku. Aku hanya bisa berpikir positip tentangnya. Aku pun merebahkan tubuhku dikasur.

Aku tiba-tiba teringat pembicaraanku bersama simbok dulu. Tentang rencana simbok menikahkan adikku. Aku jadi berpikir jangan-jangan bapak memintaku pulang besok  ada hubungannya dengan rencana pernikahan itu. Kemungkinan besok adalah acara lamarannya adikku. Ya, mungkin besok lamarannya.

Malam harinya aku berkemas-kemas untuk pulang besok. Aku hanya membawa dua stel pakaian saja. Karena kemungkinan aku tidak akan lama dirumah. Kupinjam juga dari wahyu sebuah kamera digital. Aku pikir akan berguna besok untuk mengabadikan moment itu. Setelah dirasa cukup, aku beranjak tidur agar tidak terlalu letih esok hari di perjalanan.

****************

Matahari bersinar begitu terik. Awan bercerai-berai seperti bermusuhan saja. Anginpun tak tahu kemana rimbanya. Hanya sibungsu yang berlari riang menyambutku dari kejauhan. Seperti biasanya, ia selalu bersemangat sekali menyambutku kala  aku pulang kampung. Ia tak lupa menanyakan oleh-oleh apa yang aku bawa. Ia akan cemberut setelah tahu aku tak membawakanya sesuatu. Sebagai gantinya, selembar uang ribuan kuberikan padanya. Itu lebih dari cukup untuk ukuran anak kelas  dua sekolah dasar di kampung. Ia kembali sumringah dan memelukku erat. Setelahnya, biasanya sibungsu akan menampar-nampar wajahku dan memainkan hidungku. Mungkin itu wujud kerinduannya padaku.

Aku memarkirkan motorku dihalaman. Mataku memperhatikan sekeliling halaman. Tak terlihat  apa yang seharusnya. Aku jadi heran, bukankah harusnya kursi dan meja dikeluarkan?. Pikiranku menerawang. Aku terkejut ketika simbok juga ternyata lagi sibuk membenahi bawang merah hasil panennya. Aku langsung masuk kedalam gubukku. Kali ini aku bertambah heran. Keadaan rumahpun masih seperti biasanya. Tak terlihat penataan akan ada acara penting digubuk itu.

“Jangan-jangan dugaanku kalau adikku dilamar hari ini salah!” pikirku.

“ada apa sebenarnya? kenapa bapak bilang ditelepon kemarin ada hal penting?” pikirku semakin dalam.

Aku masuk kekamar. Menaruh segala yang ada dibadanku, tas, helm dan lainya. Aku rebahkan tubuhku dikasur. Pikiranku masih saja menerawang. Menebak-nebak sekuatku. Ibu masih sibuk. Bapak belum pulang. Kutanyakan kepada siapa kebingungan ini?. Sibungsu yang sedari tadi membuntutiku menjadi pengakhir keherananku.

“nok, katanya Yu Tuti mau dilamar? Kok gak ada apa-apa?”

“ndak, mas!. Lha wong Yu Tuti belum pulang!. Mas yang mau dinikahkan.” jawabnya

Aku terperanjat.

“sama siapa?” tanyaku bertambah heran.

“sama simbok Suti’ah”

“apa?! nenek-nenek itu?!” aku terperanjat.

Sibungsu berlari kehalaman. Pikiranku semakin ruwet. Kembali menebak-nebak kebenaran yang disampaikan sibungsu. Ia masih lugu. Tak ia mungkin berbohong apalagi denganku. Tapi yang menjadi masalah adalah kenapa aku harus dinikahkan dengan simbok Sutiah, nenek-nenek yang janda itu. Apakah ada maksud dibalik semua ini? Pikiranku bertambah lelah dibarengi dengan letihnya perjalananku pulang kekampung halaman. Tubuhku lunglai. Tak tahu apa yang terjadi lagi aku terbawa mimpi.

***********

Bapak tiba-tiba membangunkanku dari lelapnya mimpi. Beliau menyuruhku mandi dan memakai pakaian yang rapi. Aku pun menurut saja. Beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi. Aku  berjalan melalui dapur . Disitu simbokku dibantu bibi sedang menyiapkan nasi tumpeng. Aku memperhatikan sejenak. Aku kembali berlalu kekamar mandi. Pikiranku masih kosong belum bisa berfikir karena keadaanku memang baru beranjak bangun dari tidur.

Setelah mandi aku langsung berpakaian rapi seperti perintah bapak. Tercium bau kemenyan menyembur-nyembur . Asapnya pun memenuhi ruangan. Aku masuk keruang tamu. Disitu telah duduk berderet dikursi tiga orang pamanku, haji Datas tetangga depanku dan pak Lebe. Semua tersenyum padaku. Bapakpun masuk keruang tamu dengan membawa nasi tumpeng dan memberikanku dua amplop. Pukul lima sore tepat acara yang masih membuatku bingung ini pun dimulai.

Pak Lebe menyuruh aku dan simbok Suti’ah duduk di tikar. Pak Lebe pun berpidato panjang lebar. Ia menjelaskan bahwa acara ini adalah selamatan biasa. Acara ini adalah acara adat ditempatku yang diperuntukan kepada seorang lelaki yang dilangkahi adiknya menikah. Menurut kepercayaan, seorang lelaki yang dilangkahi adiknya menikah harus dilakukan acara selamatan. Tujuannya agar sang kakak selamat dan tidak sial.Mendengar penjelasan pak Lebe, aku jadi lega.

“Suf, berikan amplopnya pada simbok Suti’ah” perintah pak Lebe

Pak Lebe pun mendekati aku dan simbok Suti’ah. Ia pun berkomat-kamit memanjatkan doa didepan kami.

“mbok…si Mas’e mau dilangkahi adiknya, simbok ikhlas kan mbantu acara ini?” Tanya pak Lebe pada simbok Suti’ah dan dijawab anggukan simbok.

“berikan amplop satunya lagi, mas” perintah pak Lebe padaku.

Mulut pak Lebe kembali berkomat-kamit.

Aku baru ingat adat istiadat ini memang harus dilakukan. Kepercayaan dikampungku memang begitu. Apalagi yang dilangkahi itu seorang perempuan. Jika sang perempuan dilangkahi nikah oleh adik perempuan juga, maka menurut kepercayaan, sang kakak sulit mendapat jodoh.

lain daerah lain pula adatnya. Disebuah daerah jika ada seorang lelaki dilangkahi adik perempuanya maka calon suaminya harus memenuhi permintaan sang kakak. Apapun permintaan sang kakak.

=========

Lebe : kadang jadi penghulu kadang jadi imam dalam menyolatkan mayit dan mendoakan mayit.

Cerai

Warti, perempuan berumur 30 tahun dengan perawakan kecil dan berambut pendek. Sejak menamatkan sekolah menengahnya, ia pun mengambil sekolah perawat bayi. Selain mengikuti jejak mbak Yani, saudara tuanya, ia pun bermaksud menopang kehidupan keluarganya. Setelah setahun lamanya ia menimba ilmu keperawatan bayi, ia bersama beberapa teman sekolah perawat, pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan sesuai bidangnya.

Setahun berlalu dengan cepatnya sejak ia pergi meninggalkan kampung halamannya untuk bekerja. Di Jakarta, ia begitu beruntung mendapatkan majikan yang begitu perhatian dengan dia. Merawat bayi berusia dua tahun bukan persoalan sulit baginya. Ia sudah terlatih sejak di pondokan sekolah perawat bayi dahulu. Karena kerjanya yang baik, sang majikan sering memberikan gaji lebih padanya. Ia gunakan separuh lebih gajinya untuk si mbok Painem, ibunya, dan untuk menyekolahkan Ari dan Bambang adiknya yang masih membutuhkan uang banyak untuk biaya sekolah.

Kehidupan ekonomi keluarga Warti bisa dibilang lebih terangkat. Bapak ibunya hanya seorang petani yang kesehariannya mengandalkan hasil bumi. Sejak mbaks Yani berkeluarga, Wartilah tulang punggung keluarganya. Ia mati-matian menyekolahkan adiknya agar jadi orang. Ia menjadi sedikit lebih lega ketika Ari hampir selesai masa studinya di sebuah STM. Ia berharap manakala nanti Warti sudah tak bisa bekerja lagi, Ari lah yang menggantikannya menopang kehidupan ekonomi keluarga sekaligus membiayai si bungsu, Bambang.

**********

Pak Abdul, ayah nya, sudah dua tahun belakangan menderita sakit. Walaupun sudah dirawat di rumah sakit beberapa minggu, sakitnya tak kunjung sembuh. Agaknya penyakit menua yang ditangguh ayahnya akan terus kambuh. Demi menanggung kesembuhan ayahnya, ia lebih giat lagi dalam bekerja. Gonta-ganti majikanpun dilakukannya demi mendapatkan gaji yang lebih untuk mengobati penyakit ayahnya. Bantuan dana dari mbak Yani sedikit meringankan beban Warti.
Namun keadaan ini tak berlangsung lama karena Tuhan berkehendak lain. Pak Abdul menghembuskan nafas terakhir karena tak sanggup melawan penyakit menuanya itu. Warti berduka. Seluruh keluarga berkabung. Tetangga berkerumunan untuk melayat. Semua orang berduka. Dengan musibah ini ia mencoba lebih tegar lagi menghadapi cobaan hidup. Ia pun kembali ke Jakarta setelah tujuh hari pemakaman ayahnya.

***********

Warti kali ini berpindah majikan lagi. Namun ia bermaksud menjadikan pindahan ini untuk yang terakhir kali. Ia cukup lega karena Ari telah lulus STM dan sudah bekerja di pabrik perakitan sepeda motor. Gajinya lumayan besar. Dua kali lipat lebih dari gaji Warti. Wartipun cukup senang karena penopang keluarga tak hanya dia. Ia sudah cukup menopang kehidupan keluarganya. Sudah ada Ari yang nanti menggantikannya. Sudah saatnya ia memikirkan untuk berkeluarga sendiri.
Seorang pemuda, yang juga perantauan, bernama Ardy menaruh hati pada Warti. Ardy seorang buruh pabrik yang tinggal didekat tempat tinggal majikan Warti. Setiap hari sepulang bekerja, Ardy sering melihatnya keluar berjalan-jalan disekitar kompleks. Setelah dirasa cukup, Ardy memberanikan diri untuk berkenalan dengan Warti. Warti menyambutnya dengan suka hati. Ia pun diam-diam menaruh hati juga pada Ardy.
Masa perkenalan mereka tak berjalan begitu lama karena dengan mantap hati, Ardy melamar Warti pada orang simbok Painem. Dua bulan setelahnya, mereka pun melaksanakan sunah Rasul. Mereka melaksanakan akad pernikahan dirumah Simbok Painem. Suasana suka cita menyelimuti kedua sejoli itu. Namun dalam hati, Warti juga mengandung duka karena dalam pernikahannya, ia tak mengantongi doa dan restu ayahnya.
Setahun setelah pernikahan mereka, seorang bayi mungil lahir dari rahim Warti. Sang ayah memberinya nama Imamudin. Pernikahan itu begitu sempurna dengan hadirnya Imam ditengah-tengah mereka. Si kecil menjadi penyatu dalam cinta keduanya.
Kehidupan rumah tangga Warti hampir tak pernah ada masalah berarti. Adem ayem saja karena hampir-hampir tak ada ribut-ribut kecil dari mereka. Keadaan ini berlangsung hingga si kecil genap berusia setahun. Sejak Ardy di PHK dari pabriknya, ia kerja serabutan. Mungkin ini tak masalah bagi Warti. Namun kelakuan bejat sang suami muncul dikemudian hari. Sang suami sering mabok dan main judi. Ditambah lagi penyakit bengek Ardy yang kumat-kumatan menambah masalah keluarga mereka begitu pelik.
“Mas! Kalau sampeyan masih seperti ini, mending aku kerja lagi! Aku mau pergi!”. Kata Warti saat suaminya pulang.
Ardy hanya diam dan langsung masuk ke kamar.
Begitu hancur luluh hati Warti demi melihat sikap suaminya seperti itu. Ia menjadi semakin mantap hati untuk meninggalkan suaminya itu. Walaupun dikemudian hari ada rasa sesal, Warti tetap saja bertekad meninggalkan suaminya. Ia ingin minggat. Entah kemana arah tujuannya.
Dengan rasa kesal sekaligus kecewa atas sikap suaminya, ia pulang ke kampung halamannya bersama si kecil. Ia kemudian menitipkan Imam pada sang mertua. Ia sendiri mengurus keperluan untuk menjadi TKW diluar negeri. Tekadnya semakin bulat. Berangkat juga Warti ke Taiwan menjadi TKW dan bekerja seperti dulu sewaktu masih lajang.
Di Taiwan Warti menjadi lebih baik tak diusik oleh ulah suaminya lagi. Namun dalam lubuk hatinya, ia sangat rindu dan mengkhawatirkan si kecil. Hasil jerih payahnya, ia kirimkan ke desa untuk membeli keperluan si kecil. Ia menjadi sangat marah ketika uang hasil jerih payahnya diambil oleh sang suami. Digunakan untuk keperluan suaminya dan untuk berobat sang suami. Warti semakin kecewa karena ia sudah begitu muak dengan ulah suaminya itu. Satu hal harapan yang ada dihatinya:
“sepulang dari Taiwan, aku akan menuntut cerai darinya”

==========================

mohon dengan sangat, kritikannya, pak! :mrgreen:

Calon Dokter dan Bawang Merahnya

Wach………cihuy………akhirnya sampai jugax di Semarang… 😆

Hellow eperi badi kabar kabari…. :mrgreen:

Dah lama aku nggak bercumbu dengan komputer, maklum setelah potingan terakhirku, kemarin karena liburan Idzul Adha aku pulang kampung. Kampuang nan jauh dimato…………….. :mrgreen:

Dirumah ternyata, eh, ternyata aku panen bawang merah coy :mrgreen: dua petak, walaupun hasilnya belum memuaskan. Otomatis aku bantu-bantu walaupun jadi eksekutor mandor 😆 tapi eit…yang aku akan postingkan disini bukan tentang panen bawang merahku. Brader semua mesti dah bosen mbaca ceritaku yang norak ituh 😦

Tapi tenang….ini cerita tentang anak pak haji depan rumahku PAS. Namanya ****sensor*** cewek cantik, putih nan pintar itu.

Tet teret tet tet tet teret tet tet……………….judul ceritanya Calon Dokter dan Bawang Merahnya. Bukan tentang bawang merah dan bawang putih kayak disinetron ituh loch…. 😦

Karena disensor, kita sebut saja namanya Marsha, weks…bukan marsha timothy nya Antox loch….Cerita ini di mulai saat si Marsha ini telah lulus Madrasah Tsanawiyah (Mts) setingkat SMP, aku masih kelas 4 naik kelas 5 SD. Saat menunggu untuk pendaftaran jenjang SMA ternyata, eh, ternyata ortu si Marsha ini alias Pak Haji, bermaksud menyelenggarakan pertunangan antara Marsha dengan anak salah seorang Pak Haji juga dari negara desa seberang.

Weks…jangan herman, aih, heran…,biasa…dimana-mana kalo anak perempuan besar sedikit dan sudah bisa masak ya harus dikawinin. Aku nggak tahu alasan Pak Haji mempertunangkan Marsha dengan anak Pak Haji desa seberang. Kalau masalah hutang piutang kayak disinetron-sinetron itu, yang kalau nggak bisa mbayar hutang maka anaknya dikawinin, aku rasa nggak. Lha wong pak Haji ayah si Marsha ini salah seorang yang terkaya di kampungku, je. Atau malah terkaya se kecamatan. Lha wong pak haji ini juragan bawang yang sukses. Punya lapak dimana-mana. Bawangnya selain dijual hampir di semua pasar di Jakarta, juga di ekspor. Omsetnya pun ratusan juta, atau bahkan lebih. Jadi kalau alasan pertunangan itu karena hutang piutang aku rasa nggak mungkin.

Nah…malam resepsi pertunangan itu pun berlangsung. Semua sanak saudara dari kedua belah pihak pun hadir dalam acara itu. Semua orang kampung diundang. Acara pun berlangsung seperti yang diharapkan. Aman-aman saja. Namun hati Marsha siapa tahu.

Kisah yang menurutku “unik” ini pun dimulai. Setelah tiga hari pertunangan itu, seluruh keluarga Pak Haji dibikin gempar. Apa pasal? Marsha kabur!!!!!!!! sontak saja seisi kampung geger. Seluruh keluarga dikerahkan untuk mencari si Marsha. Hingga jin, genderuwo, kuntil anak, pocong, suster ngesot, tuyul hingga hantu terowongan casablanca pihak kepolisian pun dikerahkan. Namun hasilnya tetap nihil.

Tahu nggak apa yang terjadi dengan Marsha? (sekali lagi ini memang benar-benar terjadi) Marsha kabur dan mondok di salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Brebes. Dengan bekal uang tabungannya ia hidup di ponpes itu. Ia bukan hanya mondok, tetapi melanjutkan sekolahnya ke jenjang Madrasah Aliyah. Sungguh semangat belajar yang tinggi. Ya iyalah…perlu diketahui, anak pak haji ini selain dikenal cantik didesanya ia juga selalu juara kelas dari kelas satu SD hingga lulus MTs. Di MA dan Ponpes itu pun ia dikenal sebagai murid yang cerdas.

Bulan pun terus berganti. Kondisi tabungan Marsha kian menipis. Mau pulang takut. Namun apa daya ia pun rindu dengan keluarganya. Akhirnya, ia pun mengirim surat kerumah, dan menceritakan perihal dirinya kabur dan akhirnya mondok serta melanjutkan sekolahnya. Setelah menerima surat tersebut, Bapak dan Ibu Hajipun luluh hatinya. Marsha dijemput dari Ponpes.

Setelah berkasih-kasihan, berkangen-kangenan dan ber-ber yang lain, akhirnya Pak haji mengijinkan anaknya melanjutkan sekolahnya. Marsha pun di antarkan kembali ke Ponpes dimana ia mengaji dan melanjutkan sekolah. Pertunangan dengan anak pak Haji seberang desa pun dibatalkan demi hukum.

Tiga tahun mondok dan melanjutkan sekolahnya, Marsha akhirnya menamatkan sekolahnya. Bahkan karena kejeniusan otaknya, ia pun lolos seleksi dan keterima di Jurusan yang menurut orang paling bergengsi “kedokteran” Universitas Indonesia. Biaya yang mahal pun nggak jadi masalah buat Pak Haji demi kebahagiaan dan kesuksesan Marsha. Dan kini Marsha sudah semester tujuh. Saat liburan ini, pun ia pulang dan  dengan  kebiasaannya setiap ketemu denganku:

Hallow cowok…pacarnya mana…? rambutnya potong tuch.… Sapa Marsha sang Calon Dokter.

 

 

 

 

 

 

 

ibu, maafkan anakmu

Kemarin, terlihat olehku, kakak-kakak itu sedang berdiskusi di taman kampus. Seorang lelaki berkaca mata terlihat aktif berbicara didepan dan yang lain tampak mendengarkan dengan serius. Sesekali diselingi canda tawa hingga riuh kecil menyelimuti mereka. Mata ku menerawang menyusuri lekukan bangunan nan megah di belakang mereka. sungguh megah bangunan itu. Di setiap lorong bangunan terlihat mahasiswa yang lalu-lalang. Mereka tampak terpelajar.

Ah, betapa enaknya jadi anak kuliahan. Andai saja aku jadi bagian dari mereka.” batinku

ani! kenapa kamu, nak?, kok senyum-senyum sendiri?”.

Tiba-tiba terdengar suara ibuku didepan pintu kamar. Ternyata dari tadi ibu memperhatikanku. Ibu menghampiriku yang sedang duduk didepan jendela kamar.

Oh, ibu. ada apa bu?” tanyaku lirih. Ibu pun duduk disebelahku sambil membelai rambutku.

Adakah yang membuatmu bahagia, nak?. coba ceritakan pada ibu!” pintanya.

Ndak ada apa-apa kok, bu”.

srrrrrrrr……darahku mengalir. detak jantungku berpacu kencang.

Oh inikah saatnya kuutarakan maksudku? Tapi……

Tidak!, mereka tak mungkin meluluskan kemauanku. mungkin Ibu bisa memahamiku. Tapi ayahku?, lelaki itu tidak mungkin meluluskan kemauanku. Ia berwatak keras dan teguh pada pendiriannya. sekali memutuskan, tak mungkin ia mengubahnya. Hanya ibu. ya, hanya ibu satu-satunya harapanku. ibu selalu mendukung keinginanku. apapun kemauanku ibu berusaha memahami dan mengabulkannya.

setiap ku punya masalah, ku ceritakan semua pada ibu. ibu selalu mendengarkan semua keluh kesahku dengan sabar.

ibu selalu membelaku didepan ayah. pun ketika bulan kemarin, ketika aku dan teman-temanku berencana untuk camping. ayah dengan tegas menolak keinginannku. dengan sorot matanya yang tajam dan raut mukanya yang memerah ia memarahiku habis-habisan. ia melarangku pergi dengan alasan karena aku adalah anak perempuan.

apa?! camping?!. tidak!, kau jangan ikut. nggak ada gunanya kau ikut. lebioh baik kau dirumah, bantu ibumu!.”

tapi, ayah…”

sekali tidak ya tidak!”

aku pun menangis. kurasakan ketidakadilan pada diriku. di hati kecil ini rasanya ingin berontak. tapi aku hanyalah seorang anak yang harus mematuhi perintah orang tua walaupun terkadang bertentangan dengan naruniku.

sudahlah ayah, biarlah ani bersenang-senang dengan teman-temannya. selama ini ia hanmya membantuku dirumah”.

sudah bu! jangan kau turuti kemauan anakmu!”

ayah pun berlalu. ibu mendekatiku. ia menghiburku dengan mengatakan kalau aku boleh mengikuti camping.

pagi harinya, aku pergi bersama teman-temanku. ibu memberiku perbekalan dan memberiku beberapa lembar uang dari ayah. ternyata semalam ibu berhasil meyakinkan ayah kalu aku bisa menjaga diri. ayahpun menyetujuinya.

lho, kok bengong lagi? sebenarnya ada apa, ani? coba ceritakan pada ibu! kali kedua ibu membangunkan aku dari lamuanan.

nggak ada apa-apa kok, bu”

benar, nggak ada apa-apa?”

aku pun mengangguk pelan walau dihati ku sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku utarakan padanya.

ya sudah kalau begitu. tidur sana sudah malam!”

************

siang ini mentari begitu teriknya sampai-sampai membakar setiap kulit yang telanjang. awan bercerai-berai. anginpun tak tahu kemana rimbanya. tubuhku letih seperti dihisap sarinya. mataku lelah memandang lalu-lalang orang. tenggorokanku seperti gurun pasir yang kering kerontang.

seperti inilah aktifitasku dikala lliburan. aku membantu ibuku berjualan dipasar. kini kami pulang dengan hati berbunga walaupun terasa letih semua tulangku. langsung ku teguk segelas air untuk mengobati dahagaku.

ani”

ku dengar suara ibu memanggilku.

ya, bu sebentar” jawabku sambil melangkah menuju suara ibu.

tak ada perasaan apapun dalam benakku.

ah, paling ibu membutuhkan pertolonganku”. batinku.

tapi……..

sini duduk nak! ayahmu ingin bicara”

denyut jantungku berdegup kencang. aliran darahku semakin cepat. ada apa gerangan yang ingin ayah bicarakan padaku. adakah aku berbuat kesalahan atau apa?. pikiranku meraba.

ani..” lelaki itu mulai mengeluarkan kata-katanya .

sekarang kau telah menyelesaikan sekolahmu, ayah ingin kau membantu ibumu berjualan dipasar. apa kau mau?

oh…kini darahku serasa berhenti mengalir, detak jantungku berhenti. dan tenggorokanku seperti terhimpit batu besar. sulit ku ucapkan sebuah kata.

oh tuhan……aku tahu ini pasti terjadi. aku hanya ingin melanjutkan sekolahku ke perguruan tinggi. aku ingin meraih cita-citaku yang sejak lama aku impikan. aku ingin seperti yang lain, bisa kuliah di perguruan tinggi favorit, menikmati masa mudaku dengan bahagia bersama teman-teman. tapi aku juga sadar siapakah aku ini. aku hanya anak seorang tukang becak. tapi aku mau merubah hidupku agar lebih baik lagi dari sekarang.

bagamana, ani? maukah kau membantu ibumu?”

tanya ibu memecah lamunanku.

ani, bicaralah, nak! adakah yang ingin kau sampaikan pada kami?”

ya, kata-kata inilah yang aku tunggu sejak dulu. aku ingin mereka mendengartkan apa yang ingin aku sampaikan bahwa aku ingin melanjutkan ke bengku kuliah. tapi untuk mengatakan itu sulit rasanya. mulutku serasa terkunci. hatiku berdebar. takut kalau-kalau ayah marah mendengar apa yang ingin aku sampaikan.

dengan kekuatan yang tersisa dalam diriku, akhirnya kuberanikan diri untuk angkat bicara.

ani, bicaralah!” kali kedua ibu mengulangi kata-katanya.

ayah, ibu, sebenarnya……”

hatiku masih berdebar.

sebenarnya aku ingin melanjutkan sekolahku ke perguruan tinggi, itupun kalau ayah dan ibu menyetujuinya…….” harapku

sontak wajah ayah memerah. matanya menatapku tajam. layaknya seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.

aku menunduk dan diam seribu bahasa. inilah yang aku takutkan selama ini.

apa?! kuliah! sadarkah apa yang kau katakan ini, an?!” bentaknya

sadarkah kau, anak siapa kau ini?! ku sekolahkan kau sampai SMA saja sudah untung, kini kau iungin kuliah, dari mana biayanya? hutang kita sudah banyak!”

kini ia bengkit berdiri. air mataku pun mengalir. hatiku tak sanggup menahan goncangan kata-kata ayahku.

tapi, ayah kan bisa usaha…..!”

ssssst……tangan kokohnya hendak beradu dengan pipiku. segera ibu menenangkan ayah sambil memelukku.

sabarlah, yah…….!”

inikah anakku, yang ku didik sejak kecil kini ia menentangku!”

sabar…….sabarlah, yah! dia cuma mengutarakan maksudnya”

ini karena kau terlalu memanjakannya, bu!. pokoknya aku nggak akan mengijinkannya melanjutkan kuliah!, titik!.

inilah kata-kata terakhirnya. ia pun berlalumeninggalkan kami dengan kemarahan yang bertumpuk. air mataku semakin deras mengalir. ibupun tak bisa menahan rasa harunya.

ani, sudahlah, nak! memang begitulah ayahmu. ia hanya khawatir tak bisa membiayai jika kau kuliah nanti. kamu tahu sendiri, kan? ayahmu cuma seorang tukang becak yang berpenghasilan pas-pasan. hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari”

tapi, bu….!ani benar-benar pengen kuliah. ani janji, jika diijinkan, ani akan kuliah dengan sungguh-sungguh”

ibu percaya, nak. tapi pikirkanlah niatmu ini. pikirkan juga adik-adikmu. mereka juga butuh biaya buat sekolah.”

aku terdiam. aku pun berlari menuju kamarku. menangisi nasibku.

ayah, ibu, maafkan aku…………..”